Pengumuman

Bila tulisan yang Anda cari tidak ada di blog ini, silakan kunjungi hurahura.wordpress.com

Selasa, 14 Oktober 2008

Komunitas Pendengar Radio Gelombang Pendek

Views


Oleh DJULIANTO SUSANTIO

Meskipun stasiun pemancar televisi swasta banyak bermunculan di seluruh Indonesia, siaran radio ternyata tidak ditinggalkan penggemarnya. Komunitas pendengar radio di berbagai daerah masih banyak jumlahnya.

Kenyataan itu bisa dipahami. Dibandingkan televisi, radio memiliki beberapa kelebihan. Harganya yang jauh lebih murah daripada pesawat televisi, sumber energinya bisa berupa listrik ataupun baterai, dan bentuknya yang relatif kecil sehingga mudah dibawa ke mana-mana, menjadikan radio sebagai salah satu pilihan masyarakat untuk mendapatkan beragam hiburan dan informasi secara murah dan mudah.

Di seluruh Indonesia diperkirakan terdapat lebih dari 1.000 stasiun radio lokal, seperti RRI sebagai radio resmi pemerintah, radio swasta, dan radio kampus. Umumnya radio- radio lokal itu berada pada jalur gelombang AM (Amplitudo Modulation), MW (Middle Wave), atau FM (Frequently Modulation). Di samping itu, berkembang pula radio internasional lewat jalur SW (Short Wave = Gelombang Pendek).

Sesuai namanya, penangkapan radio lokal sangat terbatas. Rata-rata mencapai radius 50 kilometer. Itu pun kalau kualitas radio yang dimiliki seseorang relatif bagus buatannya.

Sebaliknya, jangkauan radio internasional begitu luas. Meskipun dipancarkan dari negeri yang jauh, siaran itu dapat ditangkap di Indonesia dan negara-negara lain karena didukung stasiun-stasiun relai di banyak negara. Sejumlah radio internasional sudah menyelenggarakan siarannya dalam bahasa Indonesia sejak puluhan tahun yang lalu.

Siaran radio internasional itu sering disebut siaran gelombang pendek. Umumnya mereka menggunakan gelombang 13 m, 16 m, 19 m, 25 m, 31 m, 41 m, dan 49 m dalam berbagai frekuensi. Berbeda dengan radio lokal yang mengudara 18 jam hingga 24 jam sehari, radio gelombang pendek hanya mengudara relatif singkat. Beberapa stasiun hanya siaran sekitar satu jam sehari. Yang terlama, sekitar enam jam sehari.

Siaran gelombang pendek bisa ditangkap melalui berbagai jenis radio, seperti radio tabung, radio transistor, dan radio digital. Sesuai kemajuan teknologi, siaran gelombang pendek pun kini bisa didengar lewat parabola dan bisa diakses lewat internet.


Komunitas

Masyarakat Indonesia pendengar radio gelombang pendek tak pernah surut sejak pertama kali disiarkan. Umumnya komunitas pendengarnya berada di seluruh dunia, yakni TKI, TKW, staf kedutaan, mahasiswa, pelaut, dan kelompok masyarakat lainnya. Pendengar dalam negeri terdiri atas masyarakat perkotaan dan pedesaan, dari berbagai tingkatan umur dan lapisan sosial.

Banyaknya komunitas pendengar siaran gelombang pendek dapat dilihat dari menjamurnya organisasi penggemar, antara lain Radio Listeners Club Indonesia, Media Monitoring Club, Always Group, Kelompok Pencinta Radio Gelombang Pendek, DX-Indonesia Radio Club, dan Deutsche Welle Fans Club. Meskipun kelompok-kelompok tersebut dibentuk secara informal, setidaknya tergambar komunitas pencinta radio gelombang pendek masih tetap bertahan hingga sekarang.

Informasi yang cepat menjadikan alasan utama mengapa masyarakat Indonesia senang mendengarkan siaran SW. Apalagi siaran-siaran tersebut tanpa dibumbui iklan-iklan komersial. Uniknya, pendengar setia siaran SW umumnya bersifat turun-temurun, dari kakek ke ayah, lalu ke cucu, dan seterusnya.

Namun, siaran SW memiliki kelemahan mendasar, yakni suaranya kerap turun naik, berisik, dan berbagai jenis gangguan teknis lainnya. Memang dimaklumi karena siarannya dipancarkan dari negeri yang jauh sehingga gangguan pada lapisan bumi ionosfir tidak terhindarkan lagi. Gangguan suara seperti itu sering menjadi kendala bagi para SW- mania. Meskipun antena radio sudah dipasang tinggi-tinggi, bahkan dilengkapi berbagai modifikasinya, penangkapan siaran tidak pernah sempurna.

Untungnya, sejak beberapa tahun lalu, banyak pemancar lokal di seluruh Indonesia menjalin kemitraan dengan stasiun-stasiun mancanegara. Dengan demikian siaran- siaran tersebut dapat didengar melalui gelombang AM dan FM sehingga kualitas suaranya jauh lebih baik daripada kita harus mendengarkan langsung dari gelombang SW.

Di Jakarta beberapa stasiun lokal sudah menjadi mitra radio- radio internasional. Radio Elshinta merelai BBC tiga kali sehari, yakni pukul 05.00-06.00, 18.00-18.15, dan 20.00-20.30. Radio 68 H (Radio Utan Kayu) menyiarkan Radio Suara Jerman Deutsche Welle pukul 05.00-06.00. Radio MS Tri mengudarakan Radio Suara Amerika (VOA) pukul 05.00-06.30 dan 18.30-19.30. Radio Pelita Kasih memancarkan Radio Nederland Siaran Indonesia (Ranesi) pukul 18.30-18.45 dan (bersama Radio PAS) Radio Singapura Internasional (RSI) pukul 19.00-19.15. Sejumlah stasiun radio di daerah juga sudah menjalin kerja sama penyiaran dengan radio-radio internasional.

Selain warta berita, daya tarik siaran SW adalah kuis, kontak pendengar, dan pelajaran bahasa. Banyak pendengar, misalnya, tergiur dengan hadiah dari penyelengga- raan kuis atau sayembara. Banyak remaja memanfaatkan rubrik kontak pendengar untuk berkomunikasi dengan teman-teman sebayanya. Banyak pelajar bisa belajar bahasa asing bahkan memperoleh bukunya dengan gratis.

Banyak bahan cetakan dan cenderamata juga disediakan radio- radio internasional itu, seperti pedoman acara, kartupos bergambar, foto para penyiar, naskah ilmu pengetahuan, kalender, stiker, alat tulis, notes, prangko bekas, dan vandel. Pada momen-momen tertentu bahkan ada sayembara berhadiah besar, yakni mengunjungi negara tersebut, seperti yang tengah dilakukan Radio Suara Jerman Deutsche Welle menyambut Piala Dunia 2006 ini atau Ranesi yang menyelenggarakan Sayembara Slogan berhadiah 500 Euro.

Jelas, mendengarkan siaran gelombang pendek amat berman-faat. Ingin bergabung?

(Suara Pembaruan, 30 April 2006)

Tidak ada komentar:

BUKU-BUKU JURNALISTIK

Kontak Saya

Your Name :
Your Email :
Subject :
Message :
Image (case-sensitive):

Jualan Buku Teks