Pengumuman

Bila tulisan yang Anda cari tidak ada di blog ini, silakan kunjungi hurahura.wordpress.com

Senin, 05 April 2010

Terjawab, Misteri Benang Merah Manusia-Kera


VIVAnews - Elin Yunita Kristanti - Senin, 5 April 2010

Teori evolusi menyebutkan bahwa nenek moyang manusia adalah kera. Namun, seperti apa perubahan dari kera menjadi manusia jadi pertanyaan besar.

Kini misteri itu terjawab. Ditemukan sebuah fosil kerangka anak kecil berusia sekitar dua juta tahun yang diyakini sebagai spesies baru hominid -- gabungan primata dan manusia. Hebatnya, fosil itu relatif utuh, bukan hanya bagian-bagian tulang atau gigi.

Para ilmuwan yakin, kerangka tersebut adalah tipe nenek moyang manusia yang belum diketahui sebelumnya --yang memasuki tahapan lanjutan manusia kera menjadi manusia, atau disebut juga Homo habilis.

Ahli yang meneliti kerangka itu mengatakan, karakteristik Homo habilis, yang muncul 2,5 juta tahun lalu adalah tahapan kunci dalam evolusi manusia. Penemuan ini diharapkan bisa mengisi kekosongan dalam sejarah evolusi manusia.

Fosil hominid yang ditemukan sebelumnya hanya berupa fragmen tulang, sehingga penemuan kerangka yang nyaris utuh memungkinkan para ilmuwan menjawab pertanyaan kunci mengenai seperti apa bentuk nenek moyang manusia -- ketika mereka mulai berjalan tegak menggunakan dua kaki.

Kerangka tersebut ditemukan Profesor Lee Berger, dari Universitas Witwatersrand, ketika mengeksplorasi sebuah gua di Sterkfontein, wilayah Afrika Selatan, dekat Johannesburg. Gua yang mengandung kapur itu diyakini faktor penting yang menjaga keutuhan kerangka.

Penemuan ini sangat signifikan, sampai-sampai Presiden Afrika Selatan, Jacob Zuma mengundang beberapa ahli universitas untuk melihat fosil itu secara langsung. Kampanye lewat media dan dokumenter televisi juga sedang dipersiapkan.

Professor Phillip Tobias, satu dari tiga ahli yang kali pertama mengidentifikasi Homo habisis pada 1964 mengatakan, penemuan tersebut sebagai sesuatu yang luar biasa.

"Penemuan sebuah kerangka, alih-alih hanya gigi atau tulang lengan, adalah hal yang sangat jarang," kata dia, seperti dimuat laman The Age, Senin 5 April 2010.

Sementara, Dr Simon Underdown, ahli evolusi manusia dari Universitas Oxford Brookes mengatakan penemuan baru ini membantu para ilmuwan lebih memahami pohon evolusi.

"Penemuan seperti ini membuat kita makin memahami nenek moyang kita di masa-masa mereka berkembang menjadi manusia untuk kali pertamanya," kata dia.

Penemuan ini adalah yang paling penting dan signifikan sejak penemuan fosil utuh berusia 3,3 juta tahun yang diberi nama Australopithicus, atau yang juga dikenal dengan julukan 'kaki kecil' pada 1994.

Penemuan besar lainnya adalah tengkorak utuh dari 2,15 juta tahun lalu berjenis Australopithecus africanus, yang dijuluki 'Nyonya Ples', pada tahun 1947.

Minggu, 21 Maret 2010

Candi Prambanan Diharapkan Jadi Pusat Hindu


KLATEN--MI: Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo mengharapkan Candi Prambanan ke depan dapat berkembang menjadi sentra ibadah Umat Hindu sekaligus objek wisata.

"Hal tersebut akan mampu mengangkat perekonomian masyarakat, dengan tetap mempertahankan nuansa religius dan keaslian budayanya," kata Gubernur Jateng di sela upacara ritual Tawur Agung Kesanga (Wisuda Bumi) di Candi Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, Senin (15/3).

Gubernur sangat menghargai upaya itu, karena selama ini ikut merawat atau menjaga kondisi spiritual Candi Prambanan, seperti dalam penyelenggaraan ritual Tawur Agung Kesanga.

Ia mengatakan Candi Prambanan ketika dipugar, beberapa bagian candi dan relief masih berserakan dan belum tersusun rapi.

Selain itu, kata dia, ketika terjadi gempa bumi yang melanda Klaten dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), beberapa waktu lalu, menyebabkan kerusakan pada beberapa bagian candi.

Menurut gubernur, momentum kebersamaan seperti kegiatan upacara ini menjadi awal bagi masyarakat untuk meningkatkan rasa saling memiliki terhadap keagungan Candi Prambanan.

Ia mengatakan membangun Candi Prambanan berarti membangun tiga hal penting, yakni membangun kehidupan beragama, pertumbuhan ekonomi, dan pelestarian budaya.

Gubernur Jateng berharap dengan keagungan Candi Prambanan dapat dibangun sebuah aset tempat ibadah Umat Hindu, situs budaya, dan objek wisata karya anak bangsa yang bernilai sangat tinggi.

Oleh karena itu, kata dia, kembalinya keagungan Candi Prambanan dapat menjadi ikon pariwisata yang mempunyai daya tarik internasional, sehingga mampu meningkatkan ekonomi masyarakat.

Selain itu, Bibit juga berharap Candi Prambanan dapat menjadi sentra ibadah Umat Hindu di seluruh dunia, yang memancarkan Dharma Santi kemasyarakatan.

Sementara itu, Menteri Agama Suryadharma Ali mengakui adanya keluhan dari kalangan pemimpin agama bahwa Kementerian Agama dalam memfungsikan dan memanfaatkan peninggalan bangunan keagamaan yang agung di antaranya Candi Prambanan dan candi lainnya, agar memberikan peran yang besar.

Namun, kata menteri, hal tersebut sampai sekarang masih menjadi perdebatan apakah situs keagamaan yang memiliki budaya tinggi hanya dikelola institusi kepariwisataan dan kebudayaan, atau juga melibatkan pihak lain.

Menurut dia, sebaiknya dikelola Kementerian Agama, karena candi semacam itu selain memiliki nilai budaya yang sangat tinggi, tidak boleh dilupakan nilai spiritualnya. "Nanti kita bicarakan dengan instansi yang terkait," katanya.

Ia mengatakan sejumlah pimpinan agama merasa selama ini pengelolaan peninggalan berupa candi hanya dilihat dari sisi pariwisata atau budayanya, sementara sisi religius atau keagamaannya kurang diperhatikan. (Ant/OL-7)

(mediaindonesia.com)

Kamis, 18 Maret 2010

Candi Tapan Mulai Diteliti


BLITAR (SI) – Kompleks bangunan candi seluas 1.400 m2 yang ditemukan di Dusun Bakulan,Desa Bendosewu,Kecamatan Talun,Kabupaten Blitar, Jatim,mulai digali untuk diteliti,kemarin.

Di tempat yang sama,juga ditemukan dua Arca Dwarapala dan dua Arca Nandi. Balai Pelestarian dan Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan Mojokerto telah melakukan penggalian, serta melokalisasi tempat temuan tersebut dengan memasang pagar bambu. BP3 beserta warga sekitar menamakan peninggalan bersejarah tersebut dengan nama Candi Tapan,karena kerap digunakan untuk tempat bertapa.

Kebesaran dan kemegahan bangunan candi itu diperkirakan melebihi Candi Penataran di Kecamatan Nglegok, Blitar. “Hal itu terlihat dari bagian kaki candi yang sampai saat ini belum tergali sampai dasar bangunan,“ salah seorang warga yang dipercaya BP3 sebagai penjaga Candi Tapan,Kabid, 57,kemarin. Sebelum digali,candi yang berada di tengah sawah ini berupa gundukan tanah liat.

Saat ini, fisik candi tampak terlihat di kedalaman enam meter dari permukaan tanah. “Namun, fondasi dasar bangunan belum diketahui,” tandasnya. Bangunan berundak-undak tersebut terbuat dari bata merah dengan ukuran besar.“Kalau Arca Dwarapala dan Arca Nandi berada sekitar 50 meter dari kompleks candi tersebut,”beber Kabid.

Menurut informasi yang dihimpun harian Seputar Indonesia (SI), penemuan candi ini sebenarnya sudah berlangsung sejak satu bulan lalu.Namun, dirahasiakan penemuannya oleh sejumlah warga yang kerap menggunakan lokasi tersebut sebagai tempat pertapaan. Sejumlah warga akhirnya melapor ke BP3 Trowulan setelah diketahui seorang warga asal Jember bernama Slamet melakukan penggalian secara ilegal.

Dalam penggalian tersebut, Slamet menemukan ratusan bongkahan bata merah besar.Penggalian ilegal tersebut berhenti dengan sendirinya setelah Tim BP3 Trowulan turun ke lapangan.“Dulu juga ada benda, seperti kuali kuno dari batu, tetapi sekarang saya tidak melihatnya lagi,”papar Kabid.

Arkeolog BP3 Trowulan Danang Waluyo Utomo mengaku belum bisa mengidentifikasi waktu pembuatan, serta pada zaman kerajaan apa candi tersebut dibangun. Sebab,sejauh ini petugas belum menemukan simbol atau tulisan yang menunjukkan angka tahun pembuatan. Dia hanya mengatakan, Arca Nandi merupakan hewan lembu yang digunakan sebagai tunggangan Dewa Syiwa.

“Yang baru bisa kita pastikan bahwa Arca Nandi merupakan kendaraan Dewa Syiwa,pada kerajaan Agama Hindu,”tandasnya. Danang sebenarnya sudah mendengar temuan candi tersebut sejak 1995 lalu. Namun, penggalian baru dilakukan belakangan ini setelah mendapat laporan adanya penggalian liar yang mengancam keberadaan candi.“Karenanya, saat ini kita tempatkan penjaga untuk mengamankan,” pungkasnya.

Sebelumnya, kolam pemandian raja ditemukan di Dusun Nglinguk, DesaTrowulan, KecamatanTrowulan, Kabupaten Mojokerto, Jatim. Situs bersejarah ini ditemukan warga setempat bernama Ruskan, 63, di belakang rumahnya. Secara tak sengaja, Ruskan menemukan bangunan saat menggali tanah untuk pembuatan batu bata.

Sejauh ini,dia sudah berhasil menggali kolam hingga berukuran 7 X 6 meter dengan kedalaman mencapai hampir 3 meter. Jika dilihat, tampak jelas bangunan tersebut merupakan bangunan istimewa dengan arsitektur mewah ala kerajaan.Kolam kuno ini mirip dengan bangunan Candi Tikus yang juga ditemukan di Kecamatan Trowulan.

Pada bagian dinding kolam yang terbuat dari batu bata kuno terdapat beberapa buah pancuran air.Bangunan itu berundak-undak yang menandakan bahwa peninggalan sejarah tersebut bukan milik warga biasa. Selama ini,penggalian yang dilakukan Ruskan baru menghasilkan satu dinding di sisi Timur, sementara bangunan lainnya di sisi Barat, Utara dan Selatan masih belum terlihat. (solichan arif)

(Koran Sindo, Kamis, 18 Maret 2010)

Rabu, 17 Maret 2010

Gapura di Makam Mbah Priok Akan Dibongkar


Keberadaan gapura dan pendopo di areal Makam Mbah Priok atau Habib Hasan Al-Haddad di Jl TPU Dobo, Kelurahan Koja, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, dipastikan dibongkar Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Utara. Pembongkaran bangunan di area makam bersejarah ini dilakukan, karena di lokasi itu akan dibangun taman dan monumen.

“Makam Mbah Priok tidak kami bongkar. Namun sebaliknya yang akan ditertibkan adalah bangunan di sekitar areal makam seperti gapura dan pendopo yang ada di areal lokasi makam," jelas Bambang Sugiyono, Walikota Jakarta Utara, Jumat (5/3).

Bambang menambahkan, lokasi bekas pembongkaran akan dijadikan monumen seluas 100 meter persegi dan dilengkapi dengan taman. Dengan begitu, kondisi monumen terlihat rapi dan asri. "Selama ini yang beredar Makam Mbah Priok mau dibongkar, bukan makam, hanya area sekitar makam," ungkapnya.

Menurutnya, bangunan makam itu merupakan milik PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II sesuai dengan bukti kepemilikan Sertifikat Hak Pengelolaan No 01, Koja Utara seluas 1.452.270 M2.

"Kami sudah melayangkan surat perintah bongkar No 452/-1.711.1 tanggal 26 Januari 2010 yang ditujukan kepada Habib Al Idrus dan Habib Abdullah Sting sebagai pengelola eks Makam Habib Hasan Al Haddad alias Mbah Priok agar segera membongkar sendiri bangunan yang berdiri di atas lahan milik PT Pelindo II, kecuali makam Habib Hasan Al Haddad," jelasnya.

Selain itu, sambungnya, permintaan pengosongan areal makam itu juga menindaklanjuti Instruksi Gubernur (Ingub) No 132/2009 tanggal 9 September 2009. Sedangkan terkait keberadaan kerangka jasad Habib Hasan Al Haddad atau Mbah Priok telah dipindahkan ke Tempat Pemakan Umum (TPU) Budhidarma, Semperbarat, Cilincing, Jakarta Utara pada tahun 1997 lalu bersamaan dengan 32 rangka lainnya yang ada di TPU Dobo dengan luas 53.054 M2.

"Sudah dipindah seluruh kerangka termasuk kerangka Mbah Priok beberapa tahun lalu oleh pihak Pelindo," bebernya.

Namun, pada tahun 1999 bekas lokasi yang diyakini sebagai Makam Mbah Priok itu kemudian dibangun kembali layaknya pusara makam oleh ahli waris Habib Hasan Al Haddad yang kini dikelola Habib Ali Zaenal Abidin dan Habib Abdullah Sting.

"Saat ini kami belum bisa melakukan perbaikan kerena ahli waris meminta makam tidak dibongkar. Mereka juga meminta dana ganti rugi tanah sebesar Rp 2 juta per meter persegi dari 53.054 M2 yang dipakai sebagai padepokan dan gapura," jelasnya.

Bambang menegaskan, jika dalam hitungan 7x24 jam, pengelola Makam Mbah Priok tidak membongkar bangunan yang ada di sekitar makam, pihaknya akan mengerahkan Satuan Satpol PP Jakarta Utara dan Satpol PP DKI Jakarta untuk melakukan penertiban paksa.

Terkait rencana itu, pengelola Makam Mbah Priok menegaskan tetap bertahan dan akan melakukan perlawanan jika Pemprov DKI Jakarta dan Walikota Jakarta Utara nekat melakukan pembongkaran. "Ya benar kami sudah terima surat instruksi gubernur untuk pemindahan makam. Sekarang kami lagi berjaga-jaga. Kami akan lawan mereka," ujar Habib Ali, pengurus Makam Mbah Priok.

Menurut Habib Ali, semenjak datangnya surat instruksi gubernur tersebut, warga dan santri siap berjaga-jaga agar Makam Mbak Priok tidak sampai digusur. "Senjata tajam kami punya untuk melindungi lokasi kami, dan ini adalah tanah kami. Sampai saat ini kami masih berjaga, belum tahu kapan dilakukan pembongkaran," tandasnya.

(beritajakarta.com)

Jumat, 12 Maret 2010

Kolam Raja Ditemukan di Jatim


MOJOKERTO(SI) – Peninggalan Kerajaan Majapahit kembali ditemukan.Sebuah kolam yang diduga sebagai tempat mandi para raja ditemukan di Dusun Nglinguk, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Mojokerto,Jatim.

Situs bersejarah ini ditemukan warga setempat bernama Ruskan, 63, di belakang rumahnya. Secara tak sengaja, Ruskan menemukan bangunan saat menggali tanah untuk pembuatan batu bata. Sejauh ini, dia sudah berhasil menggali kolam hingga berukuran 7X6 meter dengan kedalaman mencapai hampir tiga meter. Jika dilihat, tampak jelas bangunan tersebut merupakan bangunan istimewa dengan arsitektur mewah ala kerajaan.Penemuan ini mendapatkan perhatian langsung dari Sekretaris Direktur Jenderal (Sekdirjen) Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Soeroso dengan mendatangi lokasi penemuan,kemarin.

Kolam kuno ini mirip dengan bangunan Candi Tikus yang juga ditemukan di Kecamatan Trowulan. Pada bagian dinding kolam yang terbuat dari batu bata kuno terdapat beberapa buah pancuran air. Bangunan itu berundak-undak yang menandakan bahwa peninggalan sejarah tersebut bukan milik warga biasa. Selama ini, penggalian yang dilakukan Ruslan baru menghasilkan satu dinding di sisi Timur, sementara bangunan lainnya di sisi Barat,Utara dan Selatan masih belum terlihat. Pelaksana tugas Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan, Aris Soviani membenarkan bangunan itu merupakan kolam pemandian raja. ”Hal itu berdasarkan penelitian awal atas bangunan yang sudah tampak,” papar Aris. Pernyataan Aris juga diperkuat dengan keterangan yang tertulis dalam Kitab Nagarakrtagama.

Dalam kitab itu disebutkan, di antara Situs Kedaton dan Situs Cati Spatha, terdapat kolam yang biasa dipakai para raja.”Posisi kolam ini memang berada di tempat yang disebutkan dalam kitab Nagarakrtagama. Sebenarnya, ada banyak hal yang menguatkan jika kolam ini milik para raja, termasuk temuan-temuan situs sebelumnya di sekitar kolam,”tambahnya. Aris juga telah berkoordinasi dengan Balai Arkeologi Yogyakarta untuk melakukan penelitian dan penggalian lebih jauh. Rencananya, penggalian akan dilakukan di lokasi temuan awal dan akan dimulai April mendatang. ”Sementara ini, pemilik tanah Pak Ruskan, kami minta untuk berhenti menggali tanah di sekitar temuan,” tandasnya.

Dia berharap,dari hasil penelitian itu akan ditemukan secara utuh bentuk kolam pemandian. “Setidaknya,keberadaan situ baru bisa menjadi obyek wisata.” Sekdirjen Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Soeroso menyatakan, kolam pemandian itu merupakan bangunan yang istimewa.Atas dasar itu, dia menyetujui untuk melakukan penggalian lanjutan. ”Untuk anggarannya, bisa sharing antara pemerintah pusat dan daerah. Karena ini situs,perlu untuk dilakukan penelitian hingga tuntas,” tandas Soeroso. Dia memperkirakan,kolam tersebut berukuran besar dan dimungkinkan ada bangunan lain yang masih terpendam dalam tanah. Apalagi, di Dusun Nglinguk, Kecamatan Trowulan, merupakan daerah padat situs.

”Kedatangan kami ke sini untuk meninjau langsung. Dari kesimpulan kami, memang perlu dilakukan penggalian selanjutnya hingga bentuk utuh kolam terlihat jelas,”tandasnya. Ruskan mengaku tak menduga jika bangunan yang ditemukan merupakan kolam pemandian para raja.Sejak melakukan penggalian, dia menduga temuan tersebut hanya batu bata biasa. ”Tetapi, saat penggalian terus menerus dilakukan, ternyata banyak terlihat dinding yang berbentuk kolam,” ujar Ruskan. Setelah diketahui ada bangunan bersejarah, penggalian pun dilakukan dengan hati-hati. Dia juga melaporkan ke BP3 Trowulan.

“Bahkan, kami menggunakan jasa orang lain untuk melakukan penggalian agar situs tersebut tidak rusak. Biaya untuk membayar jasa orang lain,menggunakan uang pribadi.” Ruskan mengagumi konstruksi bangunan kuno tersebut. Sebab, kekuatannya tak kalah dengan bangunan sekarang. “Tumpukan batu bata yang menjadi dinding kolam itu terlihat masih bagus,meski diperkirakan telah berumur ratusan tahun,”pujinya. (tritus julan)

(Koran Sindo, Jumat, 12 Maret 2010)

Rabu, 17 Februari 2010

Malaria Sebabkan Kematian Firaun


KAIRO - Raja Mesir paling terkenal, Tutankhamun, ternyata seorang anak laki-laki lemah yang menderita cidera kaki. Firaun paling terkenal itu mati akibat komplikasi patah kaki yang parah dengan malaria akut.

Hal itu terungkap setelah dilakukan tes DNA selama dua tahun dan CT scan atas mumi Firaun berumur 3300 tahun itu, beserta 15 mumi lainnya. Hasil tes DAN dan CT scan atas mumi-mumi itu sekaligus mengakhiri mitos di seputar anak-anak Firaun.

Sebagai Firaun kecil, Tutankhamun telah memikat publik sejak makamnya ditemukan pada 1922. Makamnya terbilang mewah karena terisi dengan kendi penuh artefak dan permata, serta topeng pemakaman dari emas.

Namun dari hasil penelitian yang dipublikasikan kemarin dalam Journal of American Medical Association (JAMA) seperti dilansir Associated Press, terungkap silsilah keluarga Firaun Tutankhamun. Tes DNA difokuskan pada Firaun Akhenaten, yang mencoba melakukan revolusi atas kepercayaan kuno Mesir ke agama tauhid yang hanya percaya pada satu tuhan.

Firaun Akhenaten adalah ayah Tutankhamun. Sementara ibu Tutankhamun tak lain adalah saudara perempuan ayahnya. Sedangkan Tutankhamun naik tahta menjadi Firaun Mesir pada usia 10 tahun pada tahun 1333 sebelum masehi, pada masa penting dalam sejarah Mesir.

Spekulasi tentang penyebab kematian Tutankhamun telah lama beredar. Sebuah lobang di tengkorak sempat memicu spekulasi bahwa Tutankhamun dibunuh, hingga akhirnya dilakukan CT scan pada 2005 yang menungkap lubang itu akibat proses pengawetan sebagai mumi. Pemindaian yang dilakukan juga mengungkap bahwa kaki Tutankhamun patah.

Namun hasil uji terbaru menggambarkan sistem kekebalan yang dimiliki Tutankhamun ternyata rentan akibat peyakit turunan. Kematian Tutankhamun diakibatkan komplikasi patah kaki yang tak kunjung sembuh dan malaria akut.

Tim peneliti, sebagaimana tertulis di jurnal, menemukan parasit malaria di banyak mumi, beberapa di antaranya adalah mumi tertua yang pernah diisolasi. "Kaki patah yang kemungkinan karena terjatuh, mungkin telah mejadi ancaman bagi hidup Tutankhamun ketika terinfeksi pula dengan malaria," tulis jurnal tersebut.

Jurnal juga menyebut Tutankhamun yang banyak dibayangkan sebagai pria muda yang gagah, ternyata hanya seorang yang memiliki banyak gangguan. "Dia adalah raja yang lemah," sambung peneliti dalam jurnal itu.(ara/jpnn)

(jpnn.com, rabu, 17 februari 2010)

Sabtu, 30 Januari 2010

Candi UII Butuh Lahan 600 Meter


SLEMAN (SI) – Lahan yang dibutuhkan untuk penyelamatan situs candi Hindu yang ditemukan di kampus terpadu Universitas Islam Indonesia (UII) Sleman diperkirakan mencapai 600 meter persegi (m2).

Candi yang sementara memiliki dua nama yaitu Candi Pustakasala dan Candi Kimpulan ini membutuhkan lahan yang cukup luas untuk zona penyangga yang tidak bisa diganggu gugat. Ketua Tim Eksavasi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta Indung paca Putra menyatakan, lahan 600 m2 ini diambil dari 24 meter x 24 meter, yang merupakan masing-masing sisi terluar batas halaman di tambah zona penyangga sepanjang tiga meter. ”Cukup luas memang, karena selain diukur dari halaman terluar, juga butuh zona penyangga yang berfungsi sebagai zona penyelamatan dan pelestarian,” ujar Indung, kemarin.

Dia menambahkan,ukuran tersebut secara teknis diambil dari ditemukannya tiga lingga patok.Ketiga lingga patok ini posisinya di antaranya satu berada di depan pintu candi induk, satunya di sisi barat dan temuan terbaru lingga patok di sebelah barat. ”Dengan ditemukan lingga patok di sebelah selatan pada Kamis (28/1) serta sejumlah bebatuan yang diduga sebagai batas halaman ini,kita sudah bisa mengukur lahan yang dibutuhkan,”terangnya. Selain temuan lingga patok tersebut, lanjut dia, hingga kemarin tidak ada penemuan lain yang begitu mencolok.

Seperti diketahui penemuan candi ini pertama kali ditemukan pada Jumat 11 Desember 2009 lalu, saat sejumlah petugas pembangunan perpustakaan sedang melakukan penggalian. Saat ini bangunan candi sudah nampak jelas, terdapat satu candi induk dan satu buah candi perwara yang letaknya di depan candi induk tersebut. Di dalam candi induk, terdapat sebuah arca ganesha,dan lingga yoni (perwujudan Dewa Shiwa). Sedangkan di candi perwara terdapat sebuah arca nandi (sapi) serta dua buah lapik yg mengapit, serta sebuah lingga yoni, dan bak penampungan air sedalam 50 cm. Candi ini diperkirakan merupakan peninggalan Mataram Kuno sekitar abad ke 9.

Terpisah, arkeolog yang juga Kepala Pemugaran BP3 Yogyakarta Budhy Sancoyo menyatakan, jika diamati pada batas halaman pertama candi ini bentuknya berbelokbelok. Ada dua kemungkinan hal ini mengindikasikan bentuk tersebut kemungkinan mengikuti kontur tanah pada saat itu. Selain itu, kemungkinan kedua terjadi pergeseran lantaran terdorong lahar yang mengubur wilayah tersebut.”Kontur batas halamannya berbelok-belok. Ini ditemukan di beberapa titik, dan ada dua kemungkinan tentang hal tersebut,”terangnya. Sementara proses eksavasi tahap ketiga akan berakhir Sabtu (30/1) ini.

Setelah selesai proses tahap ketiga ini, pada awal Februari ini hampir bisa dipastikan sejumlah rekomendasi yang akan diberikan kepada pihak Yayasan Badan Wakaf UII.”Tahap eksavasi selsai, awal Februari ini akan ada rekomendasi. Setelah itu,kegiatan berikutnya adalah pengumpulan data data secara keseluruhan untuk menentukan tindakan berikutnya,” tandasnya. (nugroho purbohandoyo)

(seputar-indonesia.com)

BUKU-BUKU JURNALISTIK

Kontak Saya

Your Name :
Your Email :
Subject :
Message :
Image (case-sensitive):

Jualan Buku Teks