Pengumuman

Bila tulisan yang Anda cari tidak ada di blog ini, silakan kunjungi hurahura.wordpress.com

Sabtu, 18 Oktober 2008

Angpao, Layak Menjadi Benda Koleksi

Views

Koleksi Amplop Angpao [Foto: Djulianto Susantio]

Salah satu ciri khas setiap perayaan Tahun Baru Imlek adalah dibagikannya angpao kepada anak-anak, orang-orang yang lebih muda, dan orang-orang yang kehidupan sosialnya lebih rendah. Angpao adalah sebuah amplop atau kantong kertas berwarna merah, baik sebagian maupun seluruhnya, dan di dalamnya diisikan uang. Merah adalah lambang keberuntungan bagi masyarakat Tionghoa.

Namun, sesuai perkembangan zaman, saat ini tidak seluruh angpao mengandung warna merah. Ada yang berwarna cokelat, ada pula kombinasi warna. Ada yang polos, ada pula yang bergambar, bahkan berhiasan. Yang ditabukan adalah angpao berwarna putih polos, karena putih merupakan lambang ketidakberuntungan. Angpao putih polos biasanya diberikan kepada keluarga yang sedang mengalami musibah atau duka cita.

Angpao begitu diburu dan dinantikan setiap orang. Isinya yang berupa uang sering kali menjadi daya tarik utama, terutama oleh anak-anak. Untuk mendapatkan angpao terlebih dulu anak-anak atau orang yang lebih muda memberi hormat kepada orang-orang tua dengan cara Tionghoa, yakni soja atau paipai. Soja atau paipai adalah mengepalkan kedua tangan, lalu mengayun-ayunkan ke depan dan ke belakang di atas dada sambil mengucapkan Gong xi fa cai atau Sin cun kiong hie (sering dilafalkan kungsi atau kionghi).

Setelah itu orang-orang tua memberikan angpao kepada anak-anak atau yang lebih muda. Besar kecilnya angpao tidak menentu, bergantung pada status sosial yang bersangkutan. Bila kehidupannya sudah mantap, bisa jadi kelas goban dan cepeceng. Namun bila pas-pasan, goceng atau ceban pun sudah membuat anak-anak kegirangan.

Angpao juga sering diberikan kepada fakir miskin sebagai tanda amal atau buang sial. Seseorang yang berstatus sosial tinggi selalu mengadakan ritual bagi-bagi angpao setiap tahun, tak bedanya orang memberikan derma atau zakat ketika berlangsung Idul Fitri.

Sesuai kepercayaan, dulu isi angpao harus berupa dua lembar uang yang masih baru. Tetapi, kini orang sudah tidak lagi memedulikan hal tersebut. "Yang penting isinya goban atau cepeceng," begitu mungkin kata yang menerima.

Zaman dulu pun angpao hanya boleh diberikan oleh orang yang sudah menikah kepada yang belum menikah. Tidak boleh sebaliknya. Semakin banyak seseorang memberikan angpao, konon rezeki yang bakal diterima akan semakin besar.

Sebenarnya angpao juga digunakan untuk memberikan hadiah ulang tahun atau pernikahan. Namun, bentuk dan ragamnya amat terbatas. Angpao jenis ini ditandai oleh tulisan khusus, yang berarti "berbahagia".

Benda Koleksi

Buat sebagian orang, amplop angpao sering dianggap sampah tak berguna lagi. Begitu isinya diambil, lalu wadahnya dibuang. Namun di mata seseorang yang jeli, amplop angpao bisa menjadi benda koleksi yang berharga.

Sejak era reformasi bergulir di Indonesia, amplop angpao menjadi incaran kolektor. Koleksi itu menjadi menarik karena Tahun Baru Imlek sudah boleh dirayakan secara terbuka, bahkan menjadi hari libur nasional. Apalagi waktu edar amplop angpao hanya setahun sekali. Jadi semacam edisi terbatas (limited edition) pada koleksi filateli, misalnya.

Karena merupakan tradisi tahunan, maka angpao yang dikeluarkan menjelang Tahun Baru Imlek sangat variatif dalam gambar dan bentuknya, sehingga sangat layak menjadi benda koleksi. Secara khusus kini banyak instansi, terutama bank, mengeluarkan beragam amplop angpao untuk customer-nya.

Sebagai benda yang universal, saat ini di seluruh dunia banyak ditemukan berbagai jenis angpao, terutama pada negara-negara yang didiami warga China perantauan. Amplop angpao biasanya berbentuk segi empat dengan berbagai ukuran. Yang terkecil sekitar 6 cm x 9 cm dan yang terbesar 9 cm x 16 cm.

Banyak cara bisa dilakukan orang untuk memperoleh amplop angpao bekas sebagai benda koleksi. Jika kita masih anak-anak atau belum menikah, tentu kita akan menerima sendiri angpao lengkap dengan isinya. Jika sudah menikah, otomatis kita tidak menerima angpao lagi. Namun, kita jangan berkecil hati karena kita bisa memintanya dari anak, keponakan, kerabat, atau siapa saja.

Begitu pula jika kita tidak ikut merayakan Tahun Baru Imlek. Bukan berarti tertutup kemungkinan untuk bisa mengoleksi angpao. Jalan utama mendapatkannya tentu saja adalah meminta.

Berbagai jenis amplop angpao juga bisa diperoleh dengan cara membeli. Sayangnya, banyak toko hanya menjual angpao dalam jumlah besar, tidak secara eceran. Biasanya per pak yang terdiri atas sepuluh lembar. Boleh saja kita membeli sebanyak itu, nanti sisanya digunakan untuk tukar-menukar dengan sesama kolektor.

Saat ini kolektor angpao memang masih mudah dihitung jari tangan. Siapa tahu sepuluh tahun mendatang jumlah kolektornya semakin meningkat. Apalagi angpao bisa menjadi obat stres karena gambarnya yang artistik. Lebih-lebih jika kita mendapatkannya bersama isinya, bukankah begitu? [Djulianto Susantio]

(Suara Pembaruan, 9 April 2006)


Tidak ada komentar:

BUKU-BUKU JURNALISTIK

Kontak Saya

Your Name :
Your Email :
Subject :
Message :
Image (case-sensitive):

Jualan Buku Teks