Pengumuman

Bila tulisan yang Anda cari tidak ada di blog ini, silakan kunjungi hurahura.wordpress.com

Senin, 03 November 2008

Mengisi TTS, Bermanfaat Psikologis dan Medis

Views


Oleh DJULIANTO SUSANTIO


Kalau Anda sering membaca koran-koran edisi Minggu, majalah-majalah hiburan, atau berbagai tabloid, tentulah Anda tidak asing lagi dengan yang namanya Teka Teki Silang (TTS). Umumnya TTS berbentuk deretan kotak kecil yang harus diselesaikan secara mendatar dan menurun. Pada kotak kecil itulah kita mengisikan jawaban huruf per huruf disesuaikan pertanyaan yang diajukan. Bagi sementara orang TTS merupakan sejenis permainan asah otak yang mengasyikkan.

Di Indonesia TTS sudah lama digemari masyarakat dari berbagai kalangan. Terbukti TTS tidak pernah tergeser sebagai rubrik tetap di media-media cetak. Munculnya pun secara periodik sejak puluhan tahun lalu dan tetap bertahan hingga kini. Bahkan karena populernya, sejumlah koran sengaja menyediakan rubrik TTS setiap hari hanya untuk menghibur dan memuaskan para pembacanya.

Terdapat berbagai alasan mengapa masyarakat amat menggemari TTS. Alasan klasik adalah untuk sekadar iseng-iseng atau mengisi waktu senggang. Bisa dibayangkan, ketika harus menunggu sesuatu, orang sering kali merasa bosan. Karena itu mereka melakukan berbagai upaya, misalnya ngobrol, sambil bermain game di ponsel, hingga mengisi TTS. Memang, karena tergolong permainan ringan, TTS mudah diisi. Dengan demikian waktu senggang tidak terbuang percuma, malah dapat dimanfaatkan sebaik mungkin.

Mengisi TTS juga dianggap aktivitas yang cukup menantang. Bukankah sembari iseng orang bisa sekaligus mengasah kemampuan otak dan menambah pengetahuan? Karena itu bisa dikatakan penggemar TTS sangat merata. Tidak hanya disenangi remaja dan orang dewasa, anak-anak pun banyak tertarik akan permainan ini.

Tidak dimungkiri, ada sejumlah pertanyaan dalam TTS yang tergolong “berat”. Karenanya pertanyaan tersebut hanya dapat diselesaikan bila orang membuka kamus, ensiklopedia, dan sejenisnya. Umumnya, TTS yang memberikan hadiah uang atau barang untuk sejumlah pemenang cenderung lebih sukar daripada TTS yang sekadar hanya untuk iseng-iseng.

Dari segi psikologis diyakini dengan mengisi TTS maka ketelitian dan keuletan seseorang akan teruji. Sementara dari segi medis dipercaya TTS membantu fungsi otak untuk menghindari kepikunan di masa tua. Di Barat, penelitian medis tentang manfaat TTS bagi kaum lansia sudah banyak dipublikasikan.


Menebak


Mengisi TTS memerlukan “seni” tersendiri. Memang, ada jawaban yang sudah pasti. Artinya, tidak bisa diganggu gugat lagi. Misalnya “mata uang negara kita”, ya jelas rupiah. Namun, ada pula jawaban yang rada pasti, contohnya “satuan waktu”. Tentu saja untuk ini kita harus berpikir lebih dalam. Karena ada lima kotak yang tersedia, bukan tidak mungkin jawabannya adalah pekan, bulan, atau tahun.

Namun bagaimana kalau huruf akhirnya bukan n? Sudah terang, jawaban yang betul adalah warsa karena kata yang berasal dari Jawa Kuno namun sudah menjadi bahasa Indonesia baku itu bersinonim dengan kata tahun. Jelas, penggemar TTS dituntut memiliki wawasan. Kalau tidak bagus, tentu mustahil dia dapat mengisinya.

Sebenarnya, sulit tidaknya jawaban TTS sangat tergantung dari tingkat intelektual seseorang. Semakin sering membaca koran, menonton televisi, atau mendengarkan radio, pasti semakin mudah menjawabnya. Apalagi sebagian besar pertanyaan bersifat pengetahuan umum.

Meskipun demikian, ada juga pertanyaan yang harus diselesaikan dengan “memutar otak” sekaligus “memeras keringat”. Coba saja simak pertanyaan berikut, “tumbuhan yang daunnya dibuat obat”? Di antara sepuluh kotak yang tersedia, huruf pertama sudah terisi t dan huruf terakhir adalah r. Buku mana yang pantas dijadikan narasumber? Apakah Kamus Besar Bahasa Indonesia ataukah Kamus Pintar karya Iwan Gayo yang katanya disusun dengan standar kebutuhan penggemar TTS?

Jawaban di atas adalah tabar-tabar, sebagaimana terdapat dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jarang mendengar kata ini, kan? Nah, itulah seninya mengisi TTS, perlu “kasak-kusuk” ke sana ke mari untuk memecahkannya.

Ada anggapan lain bahwa jawaban TTS bisa dilakukan dengan cara menebak. Tentunya pendapat demikian tidak salah. Apalah jadinya kalau kita tidak mempunyai Kamus Jepang – Indonesia atau sebaliknya, namun disuguhi pertanyaan “anjing (Jepang)”. Dari tiga kotak yang tersedia, dua kotak pertama sudah terisi huruf i dan n. Lalu huruf apa pada kotak ketiga itu? Mengingat jumlah huruf hidup (vokal) ada lima, yakni a, e, i, o, dan u, maka sebanyak itu pula pilihan kita. Jadi peluang kita hanya 20 persen, bukan? Syukur-syukur tebakan kita benar.

Di Jakarta sebenarnya penggemar TTS relatif banyak. Sebuah komunitas penggemar TTS pernah beberapa kali menyelenggarakan lomba mengisi TTS di sela-sela acara Pesta Buku Jakarta, Sayang, dalam beberapa tahun belakangan ini kegiatan demikian tidak muncul lagi.

Sungguh beruntung, rubrik-rubrik TTS di media-media cetak tidak turut menghilang ditelan modernisasi. Dengan demikian boleh dibilang sangat membantu “upaya menyehatkan kehidupan masyarakat” lewat “terapi otak” yang disajikannya. Apalagi dalam suasana stres seperti sekarang ini, salah satu hiburan atau hobi termurah adalah mengisi waktu luang yang bermanfaat.


“Fun”


Diperkirakan TTS pertama kali dibuat oleh seorang wartawan bernama Arthur Wynne pada 1913. Konon asal-muasal penemuannya berawal ketika pada suatu hari dia mendapat tugas dari bosnya untuk membuat semacam permainan yang akan dimuat di media tempatnya bekerja pada bagian “fun”. Segera, Wynne mencoba berbagai hal untuk menciptakan permainan yang bisa menarik minat pembaca.

Suatu kali dia teringat pada masa kecilnya. Ketika itu dia pernah mengenal sebuah permainan yang dinamakan Magic Squares. Magic Squares adalah sebuah permainan kata-kata dimana sang pemain harus menyusun kata agar sama mendatar dan menurun sehingga membentuk kotak.

Dari permainan itu Wynne kemudian mencoba berkreasi dengan menambah luasan kata-kata dengan bentuk yang lebih kompleks. Untuk menyusun hal itu, dia memberi semacam pertanyaan yang berfungsi untuk membuka kunci jawabannya.

Permainan yang “fun” itu dia buat dalam bentuk pola ketupat atau diamond. Namun bentuk TTS awal itu amat berbeda dengan TTS yang kita kenal sekarang. TTS zaman dulu tidak memiliki kotak hitam atau kotak kosong. Karena sederhana dan mudah dimainkan, maka banyak orang langsung menyukai kreasi Wynne itu.

Dalam waktu singkat, setelah dimuat di majalah mingguan New York World, TTS menjadi sangat populer. Sejak awal abad ke-20 TTS menyebar ke Eropa dan seluruh dunia. Di Inggris TTS pertama kali dipublikasikan pada 1922. Dibandingkan di AS, TTS Inggris mempunyai style yang khas dan berkembang menjadi banyak variasi yang lebih sulit.

Tanpa dinyana, kini semakin banyak beredar majalah khusus tentang TTS dengan segala variasi dan modifikasinya, misalnya setiap kotak harus diisi dengan angka atau satu suku kata. Sesuai fungsi awalnya, untuk iseng-iseng, maka majalah-majalah TTS banyak dijual secara asongan di terminal dan stasiun kereta api. Tentunya hal itu merupakan pertanda TTS tetap digemari, meskipun sudah ada jenis permainan baru seperti Sudoku dari Jepang. Yuk, daripada stres kita asah otak lewat TTS.***

DJULIANTO SUSANTIO
Penggemar TTS, tinggal di Jakarta

(Suara Pembaruan, Minggu, 5 Oktober 2008)

Tidak ada komentar:

BUKU-BUKU JURNALISTIK

Kontak Saya

Your Name :
Your Email :
Subject :
Message :
Image (case-sensitive):

Jualan Buku Teks