Pengumuman

Bila tulisan yang Anda cari tidak ada di blog ini, silakan kunjungi hurahura.wordpress.com

Sabtu, 07 Februari 2009

Museum Seni Rupa dan Keramik

Views

Menarik Pengunjung dengan Sentuhan Hiburan

Kawasan Kota Tua di Jakarta Kota Jakarta Barat merupakan pusat museum di kota metropolitan Jakarta. Mulai dari sinilah Jakarta pantas dijuluki sebagai kota museum. Dari sekitar 30 lebih museum dengan jenis yang berbeda-beda yang ada di ibu kota, kawasan Kota Tua yang paling banyak berdiri museum. Satu diantaranya adalah Museum Seni Rupa dan Keramik.

Seiring dengan perkembangan zaman, menjamurnya tempat-tempat hiburan dan perbelanjaan di setiap sudut-sudut kota membuat orang-orang kota enggan datang ke museum. Kehidupan modern lambat laun akan mengikis sejarah.



Perubahan zaman itu harus disiasati agar pola hidup yang modern tidak mengabaikan sejarah. Sebab, biar bagaimana pun, sejarah tidak bisa ditinggalkan manusia karena sejarah yang telah membentuk masa depan bangsa. Beberapa pengelola museum memang banyak yang mengeluhkan minimnya perhatian masyarakat dalam menghargai arti sejarah. Tetapi, dengan misi mulia, yaitu menjadikan museum sebagai tempat educatif culture, para pengelola museum khususnya yang ada di Jakarta melakukan berbagai cara agar museum bisa menarik dan menggugah minat masyarakat untuk mengunjungi museum.

Pengelola Museum Seni Rupa dan Keramik misalnya. Lewat tangan dingin ketua pengelolanya, Indra Riawan, museum yang mengoleksi sekitar 500 lukisan karya-karya maestro pelukis Indonesia seperti Affandi, S Sudjojono, Basoeki Abdullah, Dullah, Hendra Gunawan, Raden Saleh, dan lain-lain, serta 5.000 lebih keramik zaman purbakala, menjanjikan paket ganda yaitu pendidikan dan hiburan bagi para pengunjung museum.

"Kami tidak boleh berdiam diri. Kami harus bisa mencari formula-formula baru agar masyarakat lebih berminat datang ke museum. Karena museum mengoleksi lukisan dan keramik yang mempunyai nilai sejarah, maka kami memberikan sentuh-an hiburan bagi pengunjung yaitu dengan melakukan program pelatihan membuat keramik dan melukis," kata Indra Riawan kepada SP di Jakarta, Rabu (9/4).

Bahkan, pihak pengelola museum juga sering menggelar lomba lukisan yang dilakukan para pengunjung. Untuk dua hal tersebut, pihak museum menarik bayaran Rp 10.000. Dengan strategi semacam itu, Museum Seni Rupa dan Keramik mampu menarik minat pengunjung. Pada tahun 2007, misalnya, kenaikan jumlah pengunjung museum yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 20 Agustus 1976 ini cukup signifikan yaitu 20.791 orang. Pada tahun 2006, jumlahnya jauh di bawah itu. Dari 20.791 orang, pengunjung terbanyak adalah para pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang melakukan study tour yaitu 7.450 orang. Terbanyak kedua adalah wisatawan lokal, yaitu 3.317 orang, kemudian pelajar Sekolah Dasar (SD) 3.061 orang, pelajar Sekolah Menengah Umum (SMU) 2.114 orang, mahasiswa 1.801 orang, tamu resmi 1.670 orang, wisatawan mancanegara 1.350 orang, dan pengunjung yang datang khusus untuk melakukan riset 15 orang.


Koleksi Lampau


Yang menarik dari museum yang terletak di Jalan Pos Kota Nomor 2 Jakarta Barat ini bukan hanya menyajikan koleksi-koleksi di masa lampau, tetapi ada juga yang modern. Contohnya lukisan. Dalam empat ruangan dari 18 ruang pameran, di seluruh dinding terpajang lukisan-lukisan kontemporer, yang saat ini ngetren di dunia seni lukis.

Setelah melewati dua patung dada pelukis S Sudjojono dan Raden Saleh, jika langkah kaki kita belok ke kiri, maka akan menemukan beberapa ruangan besar dengan lantai dan dinding yang bersih, yang memajang hasil karya pelukis-pelukis ternama Indonesia. Kebanyakan lukisan karya Affandi, Dullah, SSudjojono, dan pelukis lain tersebut adalah sumbangan dari mantan Wakil Presiden Adam Malik. Adam Malik menyumbangkan seluruh koleksi lukisannya itu pada tanggal 29 November 1974.

Di museum ini terdapat dua karya Affandi yaitu lukisan berukuran 110 x 100 cm dengan berjudul Potret Diri yang dibuatnya pada tahun 1975, dan lukisan berukuran 102 x 88 cm berjudul Potret Diri dan Topeng.

Sementara, karya indah Raden Saleh bisa dilihat lewat lukisan Gunung Merapi Meletus yang dibuat tahun 1865. Sayangnya, karya Raden Saleh tersebut hanya merupakan reproduksi yang dilakukan oleh Andot Roseno dengan cat minyak di atas kanvas tahun 2004. Lukisan aslinya tersimpan di Museum Geologi Leiden, Belanda.

Selain karya maestro pelukis-pelukis Indonesia, di ruangan yang sama juga terdapat beberapa karya pelukis-pelukis luar negeri, seperti Walter Spies, Rudolf Bonnet, Le Mayeur, Aries Smith, dan lain-lain.

"Memang di museum ini bukan hanya leksi karya-karya dari pelukis-pelukis zaman dahulu saja, tetapi juga pelukis-pelukis muda dan baru. Kebanyakan kami tidak membeli lukisan kontemporer tersebut. Semuanya adalah hasil dari sumbangan mereka setelah melakukan pameran di museum ini. Singkat kata, kami tidak mau koleksi-koleksi lukisan di museum ini ketinggalan zaman," kata Indra.

Selain lukisan, di Museum Seni Rupa dan Keramik juga ada koleksi patung yang berciri klasik tradisional dari Bali, totem kayu yang magis dan simbolis karya Tjokot dan keluarga besarnya. Totem dan patung kayu karya para seniman modern, antara lain G Sidharta, Oesman Effendi, serta karya seniman lulusan akademis, misalnya Popo Iskandar, Achmad Sadali, dan Srihadi S.

Sementara, koleksi keramik di museum ini yang jumlahnya ribuan, terdiri dari keramik lokal dan keramik asing. Keramik lokal berasal dari daerah Aceh, Medan, Palembang, Lampung, Jakarta, Bandung. Purwakarta, Yogyakarta, Malang, Bali, Lombok, dan lain-lain. Museum juga memiliki keramik dari Majapahit abad ke-14.


Dana APBD

Mengenai perhatian Pemerintah Daerah DKI Jakarta terhadap museum ini sendiri, menurut Indra cukup bagus. Pemerintah peduli dengan kondisi gedung yang dibangun dan dipakai sebagai lembaga peradilan Belanda atau Raad Van Justitie pada tanggal 21 Januari 1870 ini dengan seluruh koleksinya.

"Yang terpenting dari museum adalah dapat memberikan kenyamanan bagi para pengunjung. Untuk itu, kebersihan museum, termasuk seluruh ruang pamerannya menjadi yang utama," ujarnya.

Itu sebabnya Museum Seni Rupa dan Keramik ini mempekerjakan 12 karyawan tetap dan delapan karyawan honorer. Karyawan honorer itu kebanyakan bekerja sebagai petugas kebersihan museum. Khusus untuk perawatan museum, Indra menjelaskan, menghabiskan dana Rp 750 juta atau setengah dari dana yang dialirkan oleh Pemerintah Daerah DKI Jakarta melalui APBD-nya yaitu Rp 1,5 miliar setahun. Sementara itu, sisanya untuk perawatan koleksi museum.

"Kami mengusulkan, kalau bisa, harga karcis untuk wisa- tawan mancanegara dinaikkan menjadi Rp 5.000. Kami menilai, harga itu juga tidak terlalu mahal bagi mereka untuk menikmati koleksi-koleksi yang ada di museum ini," tambah Indra. [SP/Ferry Kodrat]

(Sumber: Suara Pembaruan, Kamis, 10 April 2008)

Tidak ada komentar:

BUKU-BUKU JURNALISTIK

Kontak Saya

Your Name :
Your Email :
Subject :
Message :
Image (case-sensitive):

Jualan Buku Teks