Pengumuman

Bila tulisan yang Anda cari tidak ada di blog ini, silakan kunjungi hurahura.wordpress.com

Senin, 09 Februari 2009

Menelusuri Nilai Seni Sebilah Keris

Views


Bagi sebagian masyarakat mengoleksi senjata tajam seperti keris mungkin dianggap ketinggalan zaman. Bisa saja dicap sebagai "orang sakti" yang memiliki atau menyimpan kekuatan gaib. Pandangan tersebut sah-sah saja karena pada era digital sekarang ini, keris tetap dipandang sebagai benda kuno dan keramat yang mengandung kekuatan-kekuatan mistis.

Namun, Mohammad Mahfud, seorang kolektor keris di Jakarta, memiliki pandangan berbeda dalam memandang sebilah keris. Hobi me- ngoleksi senjata tajam asli Indonesia itu, tak seperti yang dibayangkan sebagian masyarakat awam.

"Keris itu adalah karya seni bernilai tinggi yang harus dilestarikan, justru pandangan-pandangan mistis di seputar keris harus dikikis," kata pria kelahiran Klaten itu, Senin (14/4).

Pria yang bekerja sebagai manajer perusahaan swasta di Jakarta itu juga mengatakan, keris merupakan senjata yang sangat unik karena sekalipun bentuknya tidak simetris, namun seimbang. Keunikan tersebut membuat sebuah keris yang bermutu bagus dapat dibuat berdiri, seolah- olah ada kekuatan lain yang membuatnya berdiri.

Berawal dari kebiasaan mengenakan pakaian adat Jawa sejak masih kecil hingga dewasa menimbulkan keinginan Mahfud untuk melestarikan budaya daerah. Maka, sejak lima tahun silam Mahfud mengawali hobinya untuk mengoleksi keris. "Awalnya dulu saya berpikir, sebagai keturunan Jawa, pantesnya ya punya keris, lagi pula barang-barang kuno kan sayang kalau nggak dipelihara," ujarnya.

Saat ini, Mahfud mengatakan, baru memiliki koleksi kurang lebih 50-an keris dengan dapur (bentuk), pamor (model) dan jumlah luk (bagian berkelok) yang berbeda. Istilah dapur digunakan untuk menyebut nama bentuk atau tipe bilah keris.

Dunia perkerisan di masyarakat suku bangsa Jawa mengenal lebih dari 145 macam dapur keris. Sedangkan pamor, luk digunakan untuk bilah keris yang tidak lurus, tetapi berkelok atau berlekuk. Luk pada keris selalu berjumlah ganjil. Pamor keris yang dimiliki Mahfud, antara lain, beras wutah, dan sengkelat, dengan luk rata-rata berjumlah 13.

Seluruh benda pusaka koleksi tersebut didapat melalui berbagai cara. Ada yang warisan orang tua, pemberian orang, dan ada yang "dimas-kawinkan" atau tukar menukar. "Ada yang membeli, tapi yang jelas saya tidak pernah berburu khusus," katanya.

Istilah "Mas Kawin" dalam dunia perkerisan adalah pembayaran sejumlah uang atau barang lain, sebagai syarat transaksi atau pemindahan hak milik atas sebilah keris, pedang, atau tombak. Dengan kata yang sederhana, mas kawin atau mahar adalah harga.

Mengenai harga keris, Mahfud mengatakan, di pasaran, keris tidak memiliki harga standar. Tinggi rendahnya harga sebilah keris bergantung dari minat dan kemampuan kolektor. Sebagai kolektor yang dapat dikatakan baru, Mahfud mengatakan, harga tertinggi koleksi kerisnya, Rp 1,5 juta. "Biasanya, orang yang sudah hobi tidak menakar harga karena berapa pun harga keris tidak sebanding dengan penciptaannya," katanya.

Lain kolektor, lain pula cara pandangnya. Hardjono Hardjoguritno, seorang kolektor yang cukup dikenal di kalangan pencinta keris Indonesia dan dunia, bahkan dapat disebut sebagai pakar keris, memiliki pandangan lebih mendalam terhadap sebilah keris.

Ketika ditemui di kediamannya di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, Hardjono mengatakan, koleksi keris bukan hanya dilihat dari jumlah keris yang dimiliki tetapi sejarah dan kelangkaan keris. "Keris itu punya sejarah, tradisi, fungsi sosial, dan merupakan karya seni yang tinggi, lambang falsafah, serta aspek spiritual," ujarnya.

Pria yang mengawali hobi me- ngoleksi keris sejak tahun 1955 itu, mengatakan, ada tiga cara untuk "menikmati" sebilah keris, yakni secara inderawi, emosi, dan spiritual (kebatinan). Dari segi inderawi, dapat dilakukan dengan memperhatikan mutu besi, kehalusan pengerjaan, pamor, dan keutuhan keris.

Melihat keris dari segi emosi sangat bergantung pada kesan yang ditimbulkan setelah memandang secara inderawi. Bagi orang yang sudah tajam dan memiliki jam terbang tinggi, maka emosinya akan tersentuh setelah melihat dari segi indrawi. Sedangkan, secara spiritual, dikatakan Hardjono, hanya dilakukan oleh golongan yang menghayati keris melalui kebatinan, seperti di keraton- keraton. "Kalau saya hanya memandang dari segi inderawi dan emosi," ujarnya.

Untuk memahami nilai sebilah keris dibutuhkan jam terbang, Anda harus melihat tak hanya ratusan tapi ribuan keris sehingga di benak Anda tercetak peta perbandingan mutu, sejarah, dan gaya.


Perawatan

Perawatan sebilah keris, lanjut Hardjono, tidaklah memerlukan perlakuan khusus. Agar keris terlihat mengkilap, maka harus diminyaki agar tidak terkena karat. "Paling saya hanya meminyaki enam bulan sekali," ujarnya. Hardjono mengatakan, sebenarnya dari segi teknik, upacara memandikan keris yang dilakukan masyarakat Jawa tradisional, tanpa disadari justru merusak keris karena menggunakan air jeruk. "Air jeruk mengandung asam, dan itu merusak besi secara keutuhan, tetapi secara pewarnaan besi dapat menjadi hitam dan pamor menjadi lebih cemerlang," katanya.

Kendati demikian, Hardjono mengatakan, perawatan keris juga bergantung dari titik tolak pendirian sang empunya keris. "Kalau saya orang teknik, jadi merawat keris secara teknis," katanya. [SYH/A-15]

(Sumber: Suara Pembaruan, Minggu, 20 April 2008)

Tidak ada komentar:

BUKU-BUKU JURNALISTIK

Kontak Saya

Your Name :
Your Email :
Subject :
Message :
Image (case-sensitive):

Jualan Buku Teks