Pengumuman

Bila tulisan yang Anda cari tidak ada di blog ini, silakan kunjungi hurahura.wordpress.com

Senin, 09 Februari 2009

Naskah Kuno Nusantara Belum Tersosialisasi

Views


[BANDUNG] Masyarakat Indonesia masih banyak yang belum mengetahui nilai dan arti dari naskah-naskah kuno. Berbagai kajian dan penelitian dari sebagian naskah-naskah itu juga belum tersosialisasikan dengan baik.

"Padahal banyak hal kontekstual yang dapat dimanfaatkan masyarakat masa kini dari isi naskah kuno," kata Ketua Penyelenggara Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara XII, Etti RS, di Grha Sanusi Hardjadinata, Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat (Jabar), Senin (4/8).

Ketua Masyarakat Pernaskahan Nusantara, Titik Pudjiastuti, mengungkapkan, sejak tahun 1994, Malaysia gencar mencari naskah-naskah yang terkait dengan rumpun Melayu. "Buat mereka, naskah ke mana saja bakal dicari, pendanaan tidak masalah," ujar Titik.

Malaysia, sambung Titik, berani membayar hingga jutaan rupiah untuk satu naskah kuno. Mereka membeli langsung kepada swasta atau masyarakat yang memiliki naskah-naskah kuno dengan iming-iming bakal disimpan dengan baik. "Mereka biasanya membeli dari Buton, Aceh, dan Riau. Pokoknya kota-kota yang memiliki naskah Melayu," tuturnya.

Simposium bertema "Manfaat Naskah untuk Masyarakat" ini diikuti 31 pemalakah dari dalam dan luar negeri. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mencerahkan masyarakat luas tentang keberadaan naskah-naskah Nusantara.

Etti mengungkapkan, masih banyak naskah kuno yang dimiliki masyarakat dan belum mendapat sentuhan maupun perawatan. Selain itu, berapa jumlah naskah yang ada di masyarakat maupun instansi pun belum ketahuan karena inventarisasinya belum dilakukan.

Hal tersebut diakui oleh Kepala Seksi Perlindungan Museum Sri Baduga Jabar, Yuanita. Menurutnya, selama ini Pemerintah Provinsi Jawa Barat belum melakukan inventarisasi naskah-naskah kuno yang ada di luar negeri. "Kalau yang di dalam negeri, sudah dilakukan oleh Edi Ekajati sebelum meninggal, namun belum sempat diterjemahkan dan dibukukan," ucapnya.

Sebelumnya, pihak museum sudah mengajukan program untuk melakukan pendataan naskah-naskah kuno yang ada di Leiden, Belanda. Namun, hingga kini program tersebut tidak mendapatkan tanggapan. Yuanita menuturkan, di Museum Sri Baduga, baru 47 dari dari 145 naskah kuno yang sudah diterjemahkan.


Ironis

Kondisi ini sangat ironis dengan keberadaan naskah-naskah kuno yang asalnya dari Indonesia dan tersimpan di luar negeri. "Naskah-naskah kuno milik Jawa Barat maupun Indonesia yang tersimpan di Belanda terawat cukup baik dan tidak mengalami kerusakan. Sedangkan naskah yang ada di Indonesia kebanyakan sudah lapuk. Jadi, ada baik dan buruknya juga tersimpan di luar negeri," ujarnya.

Sebagai upaya melestarikan dan menyebarkan nilai-nilai lokal dari naskah kuno, Rektor Universitas Padjadjaran Ganjar Kurnia berharap, para mahasiswa Jurusan Sastra dan Bahasa bisa melakukan penelitian tentang naskah-naskah tersebut. "Misalnya untuk yang menempuh sarjana bisa dengan membuat skripsi naskah kuno di daerah masing-masing," katanya.

Sekarang ini, ungkap dia, jumlah peminat sastra daerah sangat terbatas sehingga proyek-proyek penelitian nas- kah kuno yang sempat masuk ke Universitas Padjadjaran tidak terlalu banyak yang dikerjakan.

"Ini ke depannya harus mengikutsertakan mahasiswa. Sehingga akan semakin banyak lagi jumlah naskah yang diteliti dan diterjemahkan. Mahasiswa juga bisa menjadi peneliti dan ahli di bidang naskah kuno," ucapnya.

Simposium juga diisi dengan pameran benda-benda kuno, seperti lukisan di atas kertas daur ulang, naskah-naskah kuno, replika batu tulis, mushaf Alquran, dan cara-cara pembuatan kertas daur ulang. Simposium berlangsung sampai Kamis (7/8).

(Sumber: Suara Pembaruan, Jumat, 8 Agustus 2008)

Tidak ada komentar:

BUKU-BUKU JURNALISTIK

Kontak Saya

Your Name :
Your Email :
Subject :
Message :
Image (case-sensitive):

Jualan Buku Teks