Pengumuman

Bila tulisan yang Anda cari tidak ada di blog ini, silakan kunjungi hurahura.wordpress.com

Minggu, 15 Maret 2009

Bangunan Bersejarah yang Merana

Views


Jika Anda pergi ke kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara dan berhenti di terminal daerah tersebut, maka di sisi sebelah barat terminal, Anda akan melihat sebuah bangun tua dua lantai dengan menara setinggi empat meter di atasnya. Bangun itu adalah Stasiun Kereta Api (KA) Tanjung Priok.


Pemprov DKI Jakarta akan melakukan pemugaran tanpa mengubah aspek bangunan terkait pemeliharaan dan pengembangan Kota Tua.


Stasiun Tanjung Priok seusia Stasiun KA Kota, Jakarta Pusat yaitu dibangun Belanda pada 1918 lalu. Stasiun itu dibuat dengan arsitektur Barat, megah, dan unik. Pada masa didirikannya, stasiun itu berperan penting untuk mobilitas ekonomi warga Jakarta. Itu terjadi karena stasiun itu berdekatan langsung dengan Pelabuhan Tanjung Priok yang merupakan pelabuhan nasional terbesar di Indonesia.

Karena didirikan pada masa penjajahan Belanda, maka Dinas Kebudayaan DKI Jakarta memasukkan stasiun itu sebagai benda cagar budaya. Itu untuk mengingat nilai sejarahnya. Namun apa yang terjadi saat ini? Masihkah stasiun itu se-megah seperti yang dulu? Seperti apakah stasiun itu saat ini?

Mungkin ungkapan yang pas untuk kondisi stasiun itu saat ini adalah mati enggan, tetapi untuk hidup juga susah. Betapa tidak, stasiun yang pernah menjadi kebanggaan warga Jakarta di era 1920-an, kini sejumlah atapnya hilang, tembok jebol, kaca pecah, besi-besi berkarat, rel rusak, loket penjualan karcis hilang, dan halte penumpang rubuh.

Kemudian, di dalam gedung, yang terlihat adalah puluhan penjual rokok dan minuman, sejumlah kantor travel and tour berdiri di sana , berbagai jenis warung makan menempati gedung itu, toilet umum yang jorok, dan ruang karaoke yang kumuh. Di sekeliling stasiun juga terlihat gubuk dan tenda-tenda liar yang kumuh. Ada juga tempat cuci mobil dan motor, serta kafe yang berdiri seenaknya, tanpa penataan dan pengaturan yang rapi.

Meski demikian, stasiun itu tetap dioperasikan. Sekalipun sudah tidak melayani penumpang sejak tahun 2000, saat ini, stasiun itu dipakai untuk angkut barang dari Pelabuhan Tanjung Priok. Itulah yang disebut di atas bahwa "Stasiun Tanjung Priok, mati enggan, tetapi untuk hidup juga susah".


Dermaga Kota Tua

Nasib yang hampir sama dengan Stasiun KA Tanjung Priok adalah dermaga Kota Tua di kawasan Kota, Jakarta Pusat (Jakpus). Jika Stasiun KA Tanjung Priok masih dapat difungsikan, dermaga ini sama sekali tidak diperhatikan.

Dermaga ini berdampingan dengan Terminal Kota Tua, Jakpus. Di sisi baratnya, berdiri kokoh Hotel Batavia yang merupakan peninggalan Belanda. Sedangkan di sisi utaranya, dibatasi rel kereta jurusan Kota-Tanah Abang. Sementara di sisi selatannya, dibatasi toko tiga yang merupakan pusat toko zaman Belanda.

Dermaga ini sebenarnya bukan sembarang dermaga. Ia punya nilai sejarah yang tinggi. Menurut Pangkat, pegawai dari Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta yang berkantor tepat di samping dermaga itu, dermaga kota tua dibangun pada masa penjajahan Portugis. Kala itu, dermaga itu dipakai sebagai tempat berlabuh ratusan bahkan ribuan perahu tentara Portugis dan juga warga Jakarta yang saat itu disebut Batavia.

Hal yang sama disampaikan Suhadi, rekan Pangkat. Ia mengatakan, dermaga itu dulunya sebagai kawasan transaksi perdagangan, terutama penjualan ikan, sayur, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Selain itu, dermaga itu juga dipakai untuk kegiatan ekspor- impor pakaian, tekstil, dan sejenisnya.

Tetapi apa yang tersisa saat ini? Kini, dermaga itu hanya menyisakan jembatan gantung. Itu pun tinggal tiangnya saja. Sementara aktivitas pelayaran sudah tidak tampak di sana. Masalah lain adalah di sekeliling dermaga muncul puluhan gubuk dan tenda liar. Air sungai pun tampak terlihat semakin dangkal dengan warna hitam pekat. Sampah berserakan dan menimbulkan bau apek yang menyengat.

Tahun 1970-an, saat Ali Sadikin menjadi Gubernur DKI, dermaga ini sempat diupayakan untuk dihidupkan. Caranya adalah dengan membangun terminal bus tepat di samping dermaga tersebut. Itulah yang dikenal sebagai sebutan terminal kota tua di tempat itu. Diharapkan dengan dibangun terminal maka akan terjadi perawatan secara bersamaan yaitu baik kepada terminal maupun untuk dermaga. Tetapi selepas Bang Ali, semua tidak terurus, baik terminal maupun dermaga.

Awal Januari 2008 ini, dermaga itu sempat dipugari Pemprov DKI Jakarta. Tetapi ala kadarnya, mengecat jembatan gantung. Setelah dicat, tidak tahu harus diapakan lagi terhadap dermaga tersebut. Yang lucunya adalah saat ini, di dermaga itu di pasang puluhan lampu penerangan dermaga. Lampu-lampu itu tidak hanya menyala pada malam hari, tetapi juga siang hari. Petugas keamanan di terminal bus kota tua, Yanto mengemukakan lampu-lampu itu tidak pernah mati.

"Tidak tahu mau menerangi apa. Masalahnya dermaganya sendiri sudah tidak terurus. Lalu pada siang hari lampu-lampu itu tetap menyala. Itu buat boros energi saja," katanya.

Itulah ironi benda sejarah di negara kita ini dan lebih khusus di DKI Jakarta. Satu sisi diakui sebagai benda sejarah. Tetapi di sisi lain, tidak ada perawatan atas benda-benda tersebut.

foto-foto:Abimanyu



Warga melintasi bangunan tua yang tidak terawat di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, Rabu (12/3).


Perawatan


Haruskah kondisi itu dibiarkan? Tentu tidak. Baik stasiun Tanjung Priok maupun dermaga kota tua diharapkan ada perawatan yang terencana.

"Bangunan (Stasiun Tanjung Priok, Red) ini tidak bisa dirubuhkan, apalagi dihancurkan karena termasuk benda cagar budaya. Yang perlu adalah perawatan," kata Kepala Stasiun Tanjung Priok, Suwito saat ditemui SP, Selasa (4/3).

Hal yang sama disampaikan Suhadi terhadap dermaga kota tua. Menurutnya perawatan dermaga itu tidak hanya dengan memasang lampu penerang, tetapi harus ada kegiatan tertentu yang bisa menghidupkan kembali dermaga itu.

Siapa yang merawat? Untuk stasiun Tanjung Priok, Suwito menjawab pertama adalah PT Kereta Api sebagai pengguna, kemudian Dinas Kebudayaan DKI Jakarta sebagai pengelola benda cagar budaya. Sementara untuk dermaga kota tua, Yakobus Sembiring, sopir angkut di terminal kota tua ketika ditanya dengan cepat menjawab, itu tanggung jawab Pemprov DKI Jakarta. Artinya, rakyat kecil tahu bahwa perawatan benda budaya itu sebenarnya tugas Pemprov DKI Jakarta.

Suwito lebih jauh menjelaskan, perawatan terakhir Stasiun KA Tanjung Priok tahun 1990. Itu pun hanya berupa cat, ganti atap, dan perawatan ringan lainnya. Menurutnya, perawatan itu dilakukan PT Kereta Api. Sementara Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, kata Suwito, baru pada tahap kampanye.

Stasiun itu jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah menerima dana perawatan dari Dinas Kebudayaan DKI Jakarta. Yang terjadi adalah perawatan diserahkan sepenuhnya ke PT Kereta Api. "Kami dengar ada dana perawatan terhadap benda cagar budaya seperti stasiun ini. Pengelolanya adalah Dinas Kebudayaan DKI Jakarta. Tetapi nyatanya, yang terjadi selama ini adalah beban perawatan diserahkan ke PT Kereta Api. Kami tidak tahu apakah benar ada dana perawatan cagar budaya seperti itu," ujar Suwito.

Sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap kenyamanan Stasiun KA Tanjung Priok, Suwito mengaku risih dengan apa yang terjadi saat ini. Ia berkeinginan merenovasi stasiun itu. Tetapi apa daya, ia tidak punya apa-apa. Ia hanya pegawai kecil yang tidak punya uang banyak untuk merenovasi Stasiun KA Tanjung Priok.

Sama seperti Suwito, kita berharap kondisi stasiun Tanjung Priok dan juga dermaga kota tua yang ada saat ini tidak terus dibiarkan seperti itu. Ada perbaikan dari pihak terkait, terutama dari PT Kereta Api dan Dinas Kebudayaan Jakarta. Hanya dengan itu, Stasiun KA Tanjung Priok dan dermaga kota tua masih punya nama dan dikenang sebagai benda sejarah. [Robertus Wardi]

(Sumber: Suara Pembaruan, Kamis, 13 Maret 2008)

Tidak ada komentar:

BUKU-BUKU JURNALISTIK

Kontak Saya

Your Name :
Your Email :
Subject :
Message :
Image (case-sensitive):

Jualan Buku Teks