Pengumuman

Bila tulisan yang Anda cari tidak ada di blog ini, silakan kunjungi hurahura.wordpress.com

Minggu, 15 Maret 2009

Replikasi Koleksi Museum Hindari Pencurian

Views


[JAKARTA] Maraknya kasus pencurian koleksi benda seni kuno bernilai tinggi yang dipajang di museum-museum membuat para pengelola museum harus memutar otak mencegah tindak kejahatan tersebut. Salah satu caranya adalah dengan membuat replika atau tiruan barang seni tersebut.

Hal tersebut dikemukakan oleh Kepala Museum, Museum Sejarah Jakarta, Mike R Manik, pada pembukaan Program Wisata Museum yang diadakan di Museum Nasional, Jakarta, Kamis (21/2). Manik mengemukakan, upaya tersebut adalah salah satu cara paling efektif untuk menghindari pencurian benda-benda bersejarah yang tersimpan di museum. Setelah dibuat tiruan, barang berharga tersebut dapat disimpan di ruang penyimpanan yang aman dan anti-api, sehingga tidak terjangkau dari kerusakan maupun kehilangan.

"Beberapa koleksi museum harus ditampilkan replikanya jika tidak dapat ditampilkan secara utuh karena aspek sekuriti, atau pelestarian koleksi yang berisiko terhadap gangguan seperti vandalisme," ujar Manik

Manik mencontohkan, patung Dewa Hermes yang dulu menghiasi perempatan Harmoni di bawah Jembatan Lima. Patung tersebut sempat hilang dicuri, dan saat ini telah ditempatkan dengan aman di ruang penyimpanan Museum Sejarah Jakarta. Patung yang saat ini menghiasi Jembatan Harmoni tersebut merupakan replikanya.

Sampai saat ini, kata Manik, keamanan museum dan benda-benda bersejarah masih terus perlu untuk ditingkatkan. Walau sudah ada upaya-upaya peningkatan keamanan, Manik merasa masih kurang mengingat pernah terjadi kasus pencurian arca beberapa saat lalu yang melibatkan pegawai museum.

Manik mengungkapkan bahwa walaupun replika dapat membantu menghindari kasus pencurian benda bersejarah tersebut, hanya 10 persen dari 6.000 koleksi di Museum sejarah Jakarta yang merupakan barang tiruan. Alasannya beragam mulai dari masalah keamanan benda bernilai tinggi tersebut, sampai pada kondisi benda yang tidak mungkin untuk dipertunjukkan lagi.


Riskan

Museum selalu berupaya menampilkan benda-benda seni asli yang berharga untuk diperlihatkan kepada masyarakat sebagai bagian dari warisan masa lalu. Tetapi idealisme itu menurut Manik terlalu riskan. Jika benda tersebut sudah tidak memungkinkan lagi ditampilkan secara utuh, maka replika dibuat untuk ditampilkan kepada masyarakat.

Kepala Museum Geologi Bandung, Yunus Kusumahbrata juga mengungkapkan hal senada berkaitan dengan tidak memungkinkannya suatu benda bersejarah seni tertentu dipertunjukkan kepada masyarakat dalam bentuk yang asli. Batuan mulia seperti emas dan kristal yang bernilai tinggi tidak dapat begitu saja dipertunjukkan kepada masyarakat, untuk menghindari kerusakan dan kemungkinan dicuri.

Yunus mengungkapkan walau koleksi batu-batuan yang dipajang di museum geologi umumnya tidak bernilai tinggi untuk dicuri, ia tetap merasa penting untuk mengganti beberapa benda dengan replika agar tidak cepat rusak saat disentuh oleh pengunjung. Begitu pula dengan fosil-fosil raksasa yang umumnya sulit dicuri, Yunus mengemukakan sedapat mungkin memperlihatkan benda aslinya kepada masyarakat.

Namun Yunus mengatakan beberapa benda sejarah yang umurnya hingga mencapai 560 juta tahun tersebut perlu dirawat sehingga tidak mudah rusak. [CAT/U-5]

(Sumber: Suara Pembaruan, 25 Februari 2008)

Tidak ada komentar:

BUKU-BUKU JURNALISTIK

Kontak Saya

Your Name :
Your Email :
Subject :
Message :
Image (case-sensitive):

Jualan Buku Teks