Pengumuman

Bila tulisan yang Anda cari tidak ada di blog ini, silakan kunjungi hurahura.wordpress.com

Minggu, 22 Maret 2009

Memberdayakan Warisan Arkeologi untuk Masa Depan Indonesia

Views


BEBERAPA waktu lalu tersiar kabar bahwa salah satu negara tetangga kita akan mengirim batik ke luar angkasa. Ya, saat ini batik bukan lagi "milik" Indonesia. Batik telah menjadi kain yang dibuat oleh banyak negara, bahkan bisa jadi sudah dipatenkan hak ciptanya oleh orang luar Indonesia.

Apa boleh buat? Padahal tahun 1980-an, pernah diterbitkan sebuah kajian yang menyebutkan bahwa batik adalah salah satu local genius bangsa Indonesia. Artinya kurang lebih, batik adalah satu satu hasil karya yang bersumber dari pemikiran bangsa Indonesia di masa lalu.

Lalu, kenapa sekarang banyak orang luar Indonesia yang mengaku batik adalah ciptaan mereka? Bisa jadi jawabannya, karena bangsa Indonesia sendiri kurang menghargai batik. Bisa jadi juga, karena banyak di antara bangsa Indonesia sendiri yang kurang mengetahui bahwa batik adalah sebuah local genius bangsa Indonesia. Itu berarti, bisa jadi pula, banyak yang kurang mengetahui bahwa batik adalah sebuah warisan budaya Indonesia dari masa lalu, yang bersumber pada kemampuan pemikiran bangsa Indonesia sendiri di masa lalu.

Batik hanyalah sebuah contoh saja. Banyak lagi warisan masa lampau bangsa Indonesia, yang mungkin belum begitu dikenal oleh orang Indonesia sendiri. Itulah sebabnya, penyelenggaraan Pertemuan Ilmiah Arkeologi (PIA) X dan Kongres Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) yang akan diadakan di Yogyakarta, 26 sampai 29 September 2005, dapat dimanfaatkan untuk "mengingatkan kembali" betapa kayanya Indonesia dengan warisan dari masa lalu.

Apalagi tema pertemuan tersebut adalah "Pemberdayaan Warisan Arkeologi untuk Masa Depan Indonesia." Tema itu jelas-jelas menunjukkan bahwa warisan arkeologi dapat diberdayakan untuk kepentingan masa depan Indonesia. Tentu saja pemberdayaan yang paling mudah dilakukan adalah memanfaatkan warisan arkeologi untuk kepentingan pariwisata. Namun tentu saja warisan arkeologi yang ada di Indonesia, lebih dari sekadar bisa dimanfaatkan untuk menarik devisa dari sektor pariwisata saja.

Bagi bangsa Indonesia di masa depan, apa jadinya bila mereka tidak memiliki "akar kebudayaan" yang antara lain bisa dilihat dan dipelajari dari warisan arkeologi yang ada? Saat ini saja sudah sering dibincangkan, betapa generasi muda Indonesia hampir-hampir kehilangan jati dirinya sebagai orang Indonesia. "Serbuan" berbagai pengaruh dari mancanegara, mulai dari produk barang jadi sampai pengaruh budaya, membuat banyak pihak yang mengkhawatirkan kaum muda Indonesia menjadi sangat terpengaruh oleh hal-hal "impor".

Untunglah di tengah hal yang mencemaskan itu, saat ini cukup banyak juga dijumpai kaum muda yang mulai menyenangi datang ke berbagai situs bersejarah dan museum di Indonesia. Walaupun memang kalau disuruh memilih berkunjung ke museum atau ke pusat perbelanjaan seperti mal dan plaza, pasti lebih banyak yang memilih jalan-jalan ke mal dan plaza.

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, dalam kunjungan ke kantor redaksi Suara Pembaruan beberapa waktu lalu mengungkapkan, betapa dia ingin melihat seperti di luar negeri. Wisatawan datang berbondong-bondong ke museum yang ada, bahkan sampai rela mengantre.

Di Indonesia, pasti yang dikeluhkan wisatawan baik dari mancanegara maupun wisatawan nusantara, adalah kurang nyamannya museum yang ada. Mulai dari penempatan benda-benda bersejarah yang kurang enak dipandang, pencahayaan yang kurang, pendingin ruangan yang terkadang kurang berfungsi, sampai kurang jelasnya keterangan sebagai panduan untuk lebih mengenal benda bersejarah yang dipajang, dan ruangan yang berdebu, agak kurang dirawat.

Mudah-mudahan lewat PIA dan Kongres IAAI kali ini, hal-hal seperti itu yang sebenarnya pasti sudah juga dipahami oleh para arkeolog dan peminat studi arkeologi, bukan hanya dapat dibahas kembali, tetapi juga dapat dicarikan solusi yang lebih tepat dan terencana.

Mudah-mudahan pula, usaha para arkeolog itu didukung oleh banyak pihak. Supaya para arkeolog dan pencinta sejarah dan purbakala tidak sia-sia "berteriak" dan mengajak melestarikan benda-benda bersejarah dari masa lalu, namun di pihak lain ada yang seenaknya "membabat" habis benda-benda itu. Semoga.

PEMBARUAN/BERTHOLD SINAULAN

(Suara Pembaruan, Sabtu, 24 September 2005)

Tidak ada komentar:

BUKU-BUKU JURNALISTIK

Kontak Saya

Your Name :
Your Email :
Subject :
Message :
Image (case-sensitive):

Jualan Buku Teks