Pengumuman

Bila tulisan yang Anda cari tidak ada di blog ini, silakan kunjungi hurahura.wordpress.com

Minggu, 22 Maret 2009

Cagar Budaya di Sekitar Yogyakarta Ikut Alami Kerusakan

Views


Selain memakan korban jiwa, gempa tektonik yang terjadi Sabtu (27/5) pagi, juga mengakibatkan cagar budaya Tamansari, Keraton Yogyakarta, dan Candi Prambanan, mengalami kerusakan cukup parah.

Pengurus cagar budaya Yogyakarta, KGPH Prabukusumo, Minggu (28/5) siang mengatakan, sejumlah bangunan keraton mengalami rusak parah. "Atap Bangsal Trajumas runtuh, sebagian besar benda-benda di Museum Hamengku Buwono (HB) IX terguling dan pecah, lalu beberapa bangunan di Tamansari seperti Sumur Gumuling atau Pulo Panembung, Gapura Agung, dan Pulo Cemeti, runtuh dan memakan dua korban jiwa," jelasnya.

Sedangkan di Candi Prambanan, beberapa bongkahan batu candi berserakan tidak jauh dari kaki candi. Dengan kondisi itu, untuk sementara Candi Prambanan ditutup untuk umum, sebab beberapa ornamen candi masih terlihat rapuh dan berjatuhan.

Sementara itu, Candi Sojiwan yang terletak di Dusun Sojiwan, Kelurahan Kebondalem Kidul, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, dan berjarak sekitar dua kilometer arah tenggara dari Candi Prambanan, juga mengalami kerusakan cukup parah. Candi tersebut terletak di tengah-tengah perumahan penduduk.

Candi Buddha yang masih dalam tahap pemugaran tersebut, tercerai-berai hingga bentuknya tidak lagi berupa candi. Badan candi yang semula berbentuk segi empat dan dengan sebuah kamar di tengahnya, tampak hancur berantakan,

Di sebelah kanan candi induk, ada sebuah bangunan besar. Dindingnya dari balok batu andesit dan ukurannya cukup tinggi. Sedangkan beberapa reruntuhan candi perwara yang berukuran kecil terdapat di depan candi induk, masing-masing tinggal serpihan. Sebuah stupa besar yang diperkirakan stupa induk, tidak lagi tampak.

Selain bangunan di Tamansari, bangunan lain yang berkaitan dengan Keraton Yogyakarta seperti sudut benteng keraton, ikut runtuh. Menurut Prabukusumo, bangsal Trajumas yang terletak di depan Bangsal Srimanganti, berfungsi sebagai bangsal penyimpanan alat-alat upacara keraton. Di dalamnya juga tersimpan tandu yang digunakan oleh HB VII dan HB VIII beserta payung kebesarannya.

Sedang di Tamansari, Gapura Agung retak memanjang, dan empat rumah penduduk tertimpa runtuhan tembok Pulo Cemeti. Dikonfirmasi soal kondisi keraton, Sri Sultan HB X menyatakan bahwa tidak ada yang bisa menolak bencana. "Ya memang begitu, mau diapakan," kata Sultan.

Meski tampak luluh lantak, namun Sultan tidak memusingkan kondisi Keraton Yogyakarta. Sultan lebih mementingkan kondisi masyarakat yang tertimpa bencana. "Sekarang yang terpenting adalah bagaimana masyarakatnya. Soal bangunan itu nanti saja. Biarlah sementara keraton ditutup dan pengunjung harap memakluminya," tegas Sultan.

Terkait dengan upaya pelestariannya, sampai saat ini orang nomor satu di Yogya itu tetap tidak mau berkomentar banyak, sebab dalam penanganan bencana menurutnya, masyarakat patut diselamatkan terlebih dahulu. [SKA/B-8]

(Suara Pembaruan, Senin, 29 Mei 2006)

Tidak ada komentar:

BUKU-BUKU JURNALISTIK

Kontak Saya

Your Name :
Your Email :
Subject :
Message :
Image (case-sensitive):

Jualan Buku Teks