Pengumuman

Bila tulisan yang Anda cari tidak ada di blog ini, silakan kunjungi hurahura.wordpress.com

Senin, 09 Februari 2009

Melihat Peradaban Purba di Sangiran

Views


Sudah lama Sangiran ditetapkan sebagai tujuan wisata. Namun, hingga kini kawasan itu masih belum mendapat perhatian yang layak.

Sangiran tidak lebih dari 15 kilometer ke arah Purwodadi dari Kota Solo. Lokasi ini memang situs purbakala, tapi sebenarnya lokasi ini juga menarik untuk dikunjungi wisatawan. Terutama karena masih banyak temuan yang terjadi di wilayah ini, dan sebagian besar penduduk yang melakukan temuan itu.

Secara administratif, kawasan ini terletak di Kabupaten Sragen dan Karanganyar. Luasnya sekitar 56 kilometer persegi yang mencakup tiga kecamatan di Kabupaten Sragen (Kecamatan Kalijambe, Gemolong, Plupuh, dan Kecamatan Gondangrejo (Karanganyar).

Secara stratigrafis, situs ini merupakan situs manusia purba berdiri tegak terlengkap di Asia yang kehidupannya dapat dilihat secara berurutan dan tanpa putus sejak dua juta tahun hingga 200 ribu tahun yang lalu atau sejak Kala Pliosen Akhir hingga akhir Pleistosen Tengah.

Sangiran ditetapkan sebagai cagar budaya pada 5 Maret 1977 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 070/0/1977. Pada 5 Desember 1996, situs Sangiran ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia (World Culture Heritage) oleh UNESCO sebagai kawasan The Early Man Site dengan nomor penetapan World Heritage list C 593.

Sangiran bukan hanya surga bagi para arkeologi dunia, melainkan juga para wisatawan. Utamanya wisatawan yang datang ke wilayah ini adalah ingin menyaksikan lokasi purba tempat tinggal manusia zaman dulu.

Dahulunya wilayah Sangiran adalah dasar laut dan rawa-rawa. Dasar laut dan rawa-rawa itu naik ke permukaan karena proses geologis. Wilayah itu pun mengalami erosi sehingga sebagian puncaknya terkikis. Di antara kikisan inilah yang menyimpan fosil-fosil dan artefak budaya manusia purba.

Masyarakat di wilayah itu sangat mafhum dengan fosil-fosil hewan purba seperti stegodon dan elephas sp (gajah purba), bovidae (kerbau sapi) dan sebagainya. Bahkan di antara lapisan-lapisan itu juga ditemukan kerang dan hewan laut purba.

Sebagian dari hewan-hewan kerang itu dijadikan cendera mata untuk para wisa- tawan yang datang. Kepala Balai pelestarian Situs Sangiran, Harry Widianto menyebutkan hewan kerang dan laut lainnya memang masih diperbolehkan diperjualbelikan, karena jumlahnya masih sangat banyak di lokasi situs Sangiran. Hanya benda-benda artefak hasil budaya manusia dan hewan besar yang harus dilaporkan ke pihaknya jika masyarakat menemukan.

"Ini karena sangat banyaknya fosil yang ada di Sangiran sehingga untuk koleksi hewan laut yang kecil kami sudah kelebihan koleksi. Yang kami fokuskan adalah pada artefak dan hewan-hewan besar dan terutama pencarian fosil manusia purba," ujarnya.


Museum Sangiran

Sangiran terkenal sebagai situs purbakala yang paling lengkap di seluruh dunia. Di wilayah ini ditemukan sedikitnya 80 individu manusia purba. Jumlah ini diperkirakan mencapai 50 persen jenis habitat manusia purba di dunia saat itu.

Kendala yang dihadapi oleh Balai Pelestarian Situs Sangiran menurut Harry adalah wilayahnya yang sangat luas dan sudah ditempati penduduk. "Untuk itu, kami membuat Museum Sangiran. Museum ini berfungsi sebagai penyimpan koleksi dan wadah pembelajaran untuk masyarakat luas," ujarnya.

Koleksi yang ada di Museum Situs Manusia Purba Sangiran kini mencapai lebih dari 13.000 buah. Koleksi akan selalu bertambah, karena setiap musim hujan kawasan Sangiran selalu mengalami erosi yang sering menyingkapkan temuan fosil dari dalam tanah.

Koleksi yang ada di Museum Sangiran antara lain fosil manusia, fosil hewan, fosil tumbuhan, batu-batuan, sedimen tanah, peralatan batu yang dulu pernah dibuat, dan digunakan manusia purba yang pernah tinggal di Sangiran.

Koleksi-koleksi tersebut sebagian besar masih disimpan di gudang dan sebagian lagi dipajang di ruang pameran. Ruang pameran saat ini ada tiga ruang. Ruang utama berisi "vitrin" ditambah diorama, dan ruang pameran.

Data di museum itu sebagian besar pengunjung yang datang adalah wisatawan dari manca negara terutama dari Jepang, Jerman, Belanda, Singapura, Malaysia, Brunei, Inggris, Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Filipina. Jumlah wisatawan yang datang ke lokasi itu hingga kini mendekati angka 100.000. Pada tahun 2006 pendapatan dari penjualan karcis mencapai Rp 60,7 juta. Angka ini cukup menggembirakan untuk mengukur animo masyarakat terhadap museum ini.

Sebenarnya, potensi Sangiran untuk dimaksimalkan sebagai lokasi wisata masih cukup besar. Hanya saja infrastruktur pariwisatanya masih mengandalkan dari kota terdekatnya, Solo. [K-11]

(Sumber: Suara Pembaruan, Minggu, 17 Agustus 2008)

Tidak ada komentar:

BUKU-BUKU JURNALISTIK

Kontak Saya

Your Name :
Your Email :
Subject :
Message :
Image (case-sensitive):

Jualan Buku Teks