Pengumuman

Bila tulisan yang Anda cari tidak ada di blog ini, silakan kunjungi hurahura.wordpress.com

Senin, 09 Februari 2009

Mengunjungi Tempat Semayam Para Dewa

Views


"Saya sebenarnya ingin berbulan madu yang kedua di Dieng ini, tapi saya belum punya waktu. Mudah-mudahan nanti," ujar Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, mengagumi keindahan situs sejarah Pegunungan Dieng, Jawa Tengah, belum lama ini.

Sebenarnya, Jero Wacik datang ke Dataran Tinggi Dieng untuk meresmikan kompleks Candi Arjuna yang selesai dipugar 2006 lalu. Namun, ketika sampai di lokasi, Wacik justru terpincut keindahan alam pegunungan yang berada 2000 meter di atas permukaan laut itu.

Dieng sejak lama memang dikenal sebagai lokasi tujuan wisata. Lokasi ini terkenal dengan suhunya yang dingin. Selain itu, di kawasan ini juga terdapat peninggalan sejarah Kompleks Candi Dieng. Sebagian sejarawan menyebutkan, candi-candi di kawasan ini adalah salah satu candi-candi tertua peninggalan Hindu Syiwa yang berkembang pada abad ke-7 Masehi.

"Kawasan ini menarik untuk dijadikan wisata bulan madu, karena sepi dan dingin. Orang Jepang dan Korea senang tempat seperti ini untuk menikmati bulan madunya. Ini tergantung bagaimana kita menjualnya," sebut Wacik.

Dataran Tinggi Dieng dapat ditempuh dari Kota Wonosobo, Jawa Tengah. Perjalanan dengan kendaraan pribadi menuju tempat itu tidak lebih dari satu setengah jam. Di lokasi ini banyak hal yang menarik para wisatawan. Bagi mereka yang mungkin ingin menghabiskan waktu bulan madunya di daerah ini bisa mencari penginapan di sekitar lokasi dengan biaya yang relatif murah.

Menginap di sekitar lokasi tersebut lebih menguntungkan, karena bisa melebur dengan penduduk sekitar dan merasakan sejuknya hawa pegunungan. Pada bulan-bulan tertentu pada musim kemarau, suhu di Dataran Tinggi Dieng bisa berada di bawah nol derajat celcius, dan terkadang turun butiran-butiran es. Pada bulan-bulan ini biasanya penduduk sekitar tidak bisa menanam kentang, vegetasi primadona di kawasan itu. Umumnya, pohon-pohon kentang tidak bisa tumbuh ketika hawa yang terlalu dingin menyergap kawasan tersebut.

Selain udaranya yang dingin, wisatawan juga dapat menikmati keindahan alam di beberapa lokasi sekitar Dieng. Di sekitar lokasi terdapat kawah alam, seperti Kawah Pagerkandang, Kawah Sileri, Kawah Sikidang, dan Kawah Candradimuka. Selain itu, ada Telaga Merdada, Telaga Sewiwi, Telaga Balekambang, Telaga Warna dan Telaga Pengilon, Telaga Dringo, serta Telaga Cebong.

Dieng memang kawasan yang unik. Letaknya yang berada di pegunungan ini dipercaya sebagai pusat Pulau Jawa, karena jarak Dieng ke tepi timur dan tepi barat Pulau Jawa hampir sama. Apalagi di kawasan itu terdapat candi-candi tua peninggalan Hindu Syiwa.

Nama Dieng konon berasal dari bahasa Sunda Kuno, di dan hyang. Di berarti gunung dan hyang, berarti

dewa. Maka Di Hyang adalah gunung para dewa. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan sejumlah candi di kawasan itu, seperti Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, Candi Sembadra, dan Candi Gatot Kaca. Penamaan candi-candi itu sebenarnya baru dilakukan mulai pada abad ke-19. Penamaan ini merujuk pada relief-relief yang ada di masing-masing candi.


Pemuja Syiwa

Kawasan dataran tinggi Dieng ini sebenarnya juga bisa dijadikan lokasi wisata religi, terutama umat Hindu. Menurut Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah, Tri Hatma- dji, dahulunya lokasi Kompleks Candi Dieng adalah lokasi perdikan kaum brahmana Hindu Syiwa. "Di sini banyak sekali ditemukan arca Syiwa. Ini membuktikan mereka yang tinggal di sini adalah pemuja Syiwa. Para penduduk di sekitar lokasi ini pun dahulunya memiliki tugas menjaga bangunan candi, makanya banyak berkembang mitos di masyarakat sekitar sini," sebutnya.

Salah satu mitos yang berkembang adalah Anak Bajang yang dikaitkan dengan kisah Buto Ijo. Selain itu, ada juga Legenda Gangsiran Aswatama, dikaitkan dengan upaya Aswatama membunuh Raden Parikesit, Legenda Bimo Lukar, dikaitkan dengan Bimo yang buang air kecil dan menghasilkan mata air Sungai Serayu. Legenda Kawah Condro Dimuko, dikaitkan dengan Wisanggeni dan tempat penyiksaan bagi pembangkang dewa dan legenda Sumur Jolotundo, dikaitkan dengan Antaboga.

Tapi sayangnya, pemanfaatan mitos itu sebagai budaya yang bisa dijual belum di maksimalkan. Selain itu, sebagian besar lereng pegunungan di sekitar wilayah ini sudah gundul. Penduduk sekitar memanfaatkan lereng untuk menanam kentang.

Pemerintah sebenarnya sudah membangun Museum Kailasa yang memberikan informasi tentang kepurbakalaan di Dataran Tinggi Dieng. Di museum itu ada temuan-temuan lepas yang sangat bernilai, arca khas Dieng seperti arca Syiwa Trisirah dan Siwanandisawahanamurti.

"Benda-benda purba itu bukan tidak ada makna, tapi punya filosofi dan pemahaman akan nilai luhur. Pemahaman ini dapat mengubah sikap masyarakat khususnya generasi muda dalam memandang arti pelestarian dan pemanfaatan benda cagar budaya," ujar Wacik. [SP/Kurniadi]

(Sumber: Suara Pembaruan, Minggu, 17 Agustus 2008)

Tidak ada komentar:

BUKU-BUKU JURNALISTIK

Kontak Saya

Your Name :
Your Email :
Subject :
Message :
Image (case-sensitive):

Jualan Buku Teks