Pengumuman

Bila tulisan yang Anda cari tidak ada di blog ini, silakan kunjungi hurahura.wordpress.com

Minggu, 22 Maret 2009

Letusan Gunung Tambora, Salah Satu Terbesar Sepanjang Sejarah

Views


SAMPAI saat ini letusan Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), pada 10 April 1815, masih menjadi salah satu letusan gunung berapi terbesar sepanjang peradaban manusia. Tiga kerajaan yang berada di sekitar lokasi gunung lenyap ketika letusan terakhir itu terjadi dan mengakibatkan 92.000 orang tewas.

Bukti-bukti dahsyatnya letusan Gunung Tambora itu ditemukan kembali oleh tim peneliti dari Amerika Serikat dan Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) saat meneliti lapisan tanah.

Dengan menggunakan radar permukaan, mereka menemukan tulang-belulang manusia yang diduga milik sepasang suami-istri, dan sejumlah keramik yang tertimbun di dalam tanah. Dugaan kuatnya adalah, tulang belulang dan keramik itu merupakan salah satu korban dari letusan Gunung Tambora.

Kepala tim peneliti, Haraldur Sigurdsson, yang juga seorang vulkanolog dari Universitas Rhode Island, Amerika Serikat, memperkirakan ada 10.000 orang yang tewas seketika dan tertimbun tanah saat letusan terjadi. Letusan Gunung Tambora yang empat kali lebih kuat dari letusan Gunung Krakatau pada 1883 masuk dalam skala 7 The Volcanic Explosivity. Wajar saja jika tiga kerajaan, (Tambora, Pekat, dan Sanggar) yang merupakan taklukan Kerajaan Bima, lenyap akibat peristiwa itu.

Ketertarikan tim peneliti itu, lebih disebabkan keunikan Gunung Tambora. Jika tidak meletus pada 1815, Gunung Tambora diperkirakan memiliki ketinggian hingga 4.000 meter di atas permukaan laut (dpl), tetapi saat ini ketinggian gunung itu hanya 2.850 meter dpl.

Letusan itu memuntahkan magma lebih dari 150 kilometer kubik, termasuk 363 juta metrik ton gas belerang yang terlepas ke atmosfir. Jumlah gas belerang yang terlepas ke udara ini mampu meniadakan musim panas di Eropa pada tahun 1816. Gempa vulkanik saat letusan dirasakan di seluruh wilayah Asia Tenggara, debu vulkaniknya pun konon mampu membuat masyarakat di Pulau Madura tidak melihat matahari selama tiga hari.

Tidak banyak letusan gunung api katastropik di abad ke-19 yang menghasilkan suatu kaldera berdiameter besar. Di dunia hanya tercatat tidak lebih dari tiga buah saja, Gunung Pinatubo, Gunung Tambora (1815) dan Gunung Krakatau (1883). Letusan itu menyisakan kaldera berdiameter enam kilometer.

Tetapi sebenarnya bukan hanya gejala alamnya saja yang menarik sejumlah ilmuwan, kondisi sosial masyarakatnya pun memiliki keunikan tersendiri. Apalagi eksistensi masyarakat ikut lenyap bersama bencana alam itu.


Asal Usul

Nama Tambora dipercaya berasal dari kata ta dan mbora. Ta berarti mengajak, sedangkan mbora berarti hilang, jadi artinya adalah mengajak menghilang. Nama ini muncul dari mitos tentang adanya orang sakti yang mampu menghilang, dan tidak ada keterkaitan dengan peristiwa bencana yang menewaskan banyak orang itu.

Sigurdsson yang ahli gunung api menyebutkan, ada beberapa catatan ilmuwan Belanda dan Inggris yang pertama kali berinteraksi dengan masyarakat di daerah itu pada 1800-an. Ilmuwan itu menyebutkan ada hubungan yang unik antara masyarakat di sekitar Gunung Tambora dengan kebudayaan Cina. Bahasa yang digunakan oleh masyarakat berbeda dengan bahasa suku-suku di Nusantara pada saat itu. Bahkan beberapa artefak yang ditemukan, seperti keramik, dan sebagainya, lebih memiliki kedekatan dengan kebudayaan masyarakat di Vietnam atau Indocina, dibanding kedekatan dengan kebudayaan masyarakat di Nusantara.

Sejumlah benda yang ditemukan oleh masyarakat sejak 10 tahun lalu, seperti tombak, keris, guci dan peralatan rumah tangga lain, menyiratkan hal yang sama. Ada dugaan, masyarakat ini berasal langsung dari Cina, namun arkeolog dari Universitas Nasional Singapura, John Miksic menyebutkan, kedekatan antara masyarakat Tambora dengan masyarakat Vietnam atau Indocina bisa dikarenakan adanya hubungan dagang yang erat pada masa itu.

Namun penemuan-penemuan benda-benda arkeologi ini bisa menyempurnakan penjelasan tentang kondisi kerajaan itu sebelum lenyap akibat letusan gunung api. (AP/K-11)

(Suara Pembaruan, Senin, 6 Maret 2006)

Tidak ada komentar:

BUKU-BUKU JURNALISTIK

Kontak Saya

Your Name :
Your Email :
Subject :
Message :
Image (case-sensitive):

Jualan Buku Teks