Pengumuman

Bila tulisan yang Anda cari tidak ada di blog ini, silakan kunjungi hurahura.wordpress.com

Minggu, 22 Maret 2009

Temuan Fosil Banteng Purba di Nganjuk Berumur Ribuan Tahun

Views


Bentuk tubuh hewan purbakala yang ditemukan di Dusun Sumbergayu, Desa Klurahan, Kecamatan Ngronggot, akhirnya menemukan titik terang setelah ditemukan kerangka tubuh hewan purbakala tanpa tulang tengkorak itu masih melekat dengan tanah. Meskipun belum semuanya, tim arkeologi yang melakukan penggalian sudah bisa memastikan jenisnya Bos Paleojavanicus yaitu hewan purbakala yang termasuk dalam kelompok bufidae al sapi , kerbau atau banteng. Hal itu disampaikan oleh Kepala Balai Arkeologi Jogyakarta, Dr Hari Widianto, kepada wartawan di Nganjuk, Jatim, Selasa (10/8).

Seperti diketahui, proses penggalian tulang-tulang hewan purbakala ini sudah memakan waktu hampir sepekan. Penggalian dilakukan oleh tim masing-masing Balai Penelitian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan, Mojokerto dan Balai Arkeologi Jogjakarta. Untuk penelitian lanjutan, fosil purba tersebut kini sudah di bawa ke laboratorium arkeologi Universitas Gadjah Mada.

Hari Widianto menjelaskan, tulang kerangka hewan itu bukan berasal dari jenis hewan pada masa sekarang. Dari hasil identifikasi gigi dan sebagian tulang kepala yang ditemukan Nasukan, 46, pemilik pekarangan, hewan itu diketahui hidup ribuan tahun lalu. "Karakter terkuat untuk menentukan umur binatang ada di kepala dan gigi," katanya meskipun belum bisa memastikan berapa secara pasti umurnya.

Dikatakannya bahwa tulang kerangka hewan purba itu sudah mengalami proses fosilisasi meskipun belum seluruhnya menjadi fosil karena proses perubahan dari tulang menjadi fosil setidaknya membutuhkan waktu 7.000 tahun. "Tapi, untuk tulang hewan ini, proses fosilisasi sudah mulai. Indikasinya, tulang sudah mengeras dan gigi-gigi yang ditemukan lebih berat," katanya.

Ditegaskan hewan purbakala itu bukan jenis dinosaurus karena sejak 65 juta tahun lalu, kehidupan dinosaurus sudah punah sementara Pulau Jawa baru ada sekitar 34 juta tahun lalu. "Untuk penyelamatan situs, bisa dilakukan dengan beberapa mekanisme seperti tetap menggunakan konteks alam yaitu melindungi situs agar tetap di lokasi temuan dan menjadikannya sebagai cagar budaya. Dengan cara ini masyarakat atau peneliti bisa langsung melihat di lokasi temuan. Mereka bisa langsung mengetahui kerangka tulang belulang itu di tempat aslinya sekaligus dapat melihat jenis tanah dan lingkungan di sekitar temuan," katanya.

Sedangkan mekanisme lain, dapat dilakukan dengan mengambil semua tulang kerangka itu dari lokasi temuan. Selanjutnya, dilakukan rekonstruksi dan menyimpannya di museum. Untuk keperluan ini, kerangka tulang harus dicetak dulu dan direkonstruksi sesuai posisinya agar nanti bisa dirangkai sesuai dengan komposisi aslinya. (029)

(Suara Pembaruan, ....)

Tidak ada komentar:

BUKU-BUKU JURNALISTIK

Kontak Saya

Your Name :
Your Email :
Subject :
Message :
Image (case-sensitive):

Jualan Buku Teks